AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Tanggapi Polemik Wayang, Wamenag: Tidak Perlu Dibesar-besarkan

SYARIAH
Novi Fauziah
Rabu, 23 Februari 2022 15:36 WIB
Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi menanggapi polemik terkait wayang yang disebut-sebut haram.
Tanggapi Polemik Wayang, Wamenag: Tidak Perlu Dibesar-besarkan(Dok.MNC)
Tanggapi Polemik Wayang, Wamenag: Tidak Perlu Dibesar-besarkan(Dok.MNC)

IDXChannel - Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa’adi menanggapi polemik terkait wayang yang disebut-sebut haram. Ia mengatakan, ada baiknya setiap penceramah agama tidak memasuki pembahasan pembahasan masalah yang masuk kategori khilafiyah (perbedaan) yang bersumber pada cabang agama atau furu'iyat. Ia juga berharap perdebatan ini dihentikan.

Lebih lanjut, hal ini karena bisa menimbulkan polemik yang berakibat pada perpecahan diantara umat Islam dan antar kelompok masyarakat. Sementara substansinya bukan hal yang menjadi pokok pada ajaran agama.

“Perdebatan hukum halal-haram terkait masalah wayang sudah sering terjadi, dan hal tersebut oleh para ulama dinilai sebagai sebuah hal yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Rabu (23/02/22).

Zainut menambahkan, perbedaan pendapat tersebut masih dalam wilayah ikhtilaf yang diperbolehkan dalam agama. Selain itu perbedaan itu harus disikapi secara bijaksana, saling memahami ( husnu al-tafahum ), toleran  ( tasamuh ) dan tidak boleh saling menjelekkan  apalagi menistakan satu sama lain.

Kemudian Zainut mengimbau, hendaknya para penceramah agama juga memiliki perspektif yang lebih luas dalam memahami masalah, tidak cukup hanya pendekatan hukum halal-haram, boleh atau tidak. Tetapi juga mempertimbangkan masalah sosial, budaya, kearifan lokal dan nilai -nilai lain yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang majemuk dan plural.

“Sehingga tidak menimbulkan gesekan dan konflik diantara kelompok masyarakat,” katanya. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD