AALI
12800
ABBA
194
ABDA
0
ABMM
3260
ACES
1005
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4850
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
175
ADRO
3310
AGAR
356
AGII
1945
AGRO
970
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
159
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
0
AKRA
1030
AKSI
232
ALDO
930
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
206
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
545.18
1.12%
+6.05
IHSG
6942.45
1.75%
+119.11
LQ45
1020.08
1.18%
+11.88
HSI
20502.48
1.9%
+381.80
N225
26708.55
1.16%
+305.71
NYSE
15035.87
-0.06%
-8.65
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
867,040 / gram

Wapres Maruf Minta Industri Pangan Halal RI Dapat Diproduksi dari Hulu ke Hilir

SYARIAH
Winda Destiana
Jum'at, 22 April 2022 20:12 WIB
Industri halal, salah satunya di bidang pangan, memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Wapres Maruf Minta Industri Pangan Halal RI Dapat Diproduksi dari Hulu ke Hilir
Wapres Maruf Minta Industri Pangan Halal RI Dapat Diproduksi dari Hulu ke Hilir

IDXChannel – Industri halal, salah satunya di bidang pangan, memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sebab, Indonesia memiliki bahan baku pangan yang berlimpah dan beragam. Oleh karena itu, seluruh bahan baku tersebut, baik dari hulu dan hilir, harus dapat diproduksi secara lokal untuk semakin memajukan industri pangan halal Indonesia.

“Saya terus mendorong supaya dilakukan riset dan inovasi ini. Ini supaya terus dikembangkan dan kita memiliki bahan baku yang banyak, yang kaya, yang harus bisa diproduksi dari hulu sampai ke hilir,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin pada keterangan persnya usai meresmikan Fasilitas Riset Pangan sebagai Laboratorium Rujukan Riset Halal Indonesia di Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jalan Yogya-Wonosari KM 31.5, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta, Jumat (22/04/2022).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, selain produksi secara lokal, pusat riset dan pengembangan juga dituntut untuk dapat menemukan substitusi produk impor yang selama ini masih kerap digunakan dalam pembuatan pangan halal.

“Riset tentang substitusi produk impor. Jadi ada bahan-bahan yang sudah  mulai diproduksi itu, seperti gelatin yang biasanya turunan dari babi sekarang bisa dari rumput laut,” ujar Wapres.

“Dan juga nanti bahan-bahan lain untuk menggantikan yang non-halal itu menjadi halal, termasuk rasa. Biasanya makanan itu kan harus ada semacam flavor (rasa). Itu ada yang halal dan ada yang tidak halal. Disini bisa dilakukan pembuatan produk-produk yang halal,” tambahnya.

Dari sisi kehati-hatian, Wapres juga menekankan pentingnya deteksi terhadap unsur-unsur yang terkandung di dalam makanan yang dinilai non-halal.

“Jadi yang diragukan tinggal masuk lab bisa diuji. Ada yang melalui dagingnya, ada yang melalui aroma. Aromanya pun bisa dideteksi,” imbuh Wapres.

Sementara untuk kemasan (packaging), Wapres memberikan apresiasi atas inovasi yang telah dibuat oleh pusat riset dalam mengemas produk UMKM dengan baik.

“Saya merasa bangga kita sudah bisa mengalengkan produk-produk masyarakat, UMKM, dari mulai gudeg, rawon, empal gentong. Jadi, produk masyarakat yang berkuah ternyata bisa diawetkan dan itu bisa tahan lama, sehingga ini dalam rangka mendukung usaha-usaha UMKM,” ungkap Wapres.

Menutup keterangan persnya, Wapres menyampaikan bahwa ke depan, produk pangan halal Indonesia diharapkan dapat semakin maju dan menembus pasar global. Sebab, selain diminati oleh negara-negara muslim lainnya, produk pangan juga dicari oleh diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara di dunia.

“Kita tidak hanya sampai untuk memenuhi kebutuhan nasional, tapi kita juga ingin justru mengarahkan ke ekspor,” jelas Wapres.

“Nah, maka lembaga ini memberikan dorongan, bantuan untuk menopang, sehingga mereka tidak sulit mencari bahan bakunya, tidak sulit untuk dideteksinya, bahkan juga tidak sulit untuk diawetkan sehingga bisa dikirim ke berbagai negara,” pungkasnya.

Sejalan dengan Wapres, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengungkapkan bahwa pusat riset yang pada hari ini diresmikan oleh Wapres memiliki dua target, yaitu terkait substitusi produk dan pendeteksian kandungan non-halal dalam sebuah produk.

“Jadi substitusi produk yang kurang atau diragukan kehalalannya itu diganti dengan produk-produk yang jelas-jelas halal, khususnya yang dari laut. Karena kita punya banyak laut, jadi rumput laut, dan juga singkong dan sebagainya,” papar Tri.

“Kemudian kemampuan untuk mendeteksi. Jadi kita mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi kehalalan yang tadi juga sudah dilihat oleh Pak Wapres, baik itu melalui DNA-nya, dari sisi DNA, dari sisi aroma, dari sisi-sisi struktur proteinnya,” tandasnya.

Hadir mendampingi Wapres dalam keterangan pers ini Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko.

(NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD