Euforia terhadap AI sebelumnya telah mendorong indeks saham global melampaui rekor tertinggi pada 2025. Namun, momentum tersebut mulai melemah sejak konflik tersebut.
Di sisi lain, biaya energi menjadi kendala. Operasional pusat data yang menopang AI membutuhkan konsumsi listrik dalam jumlah besar, sehingga sangat bergantung pada harga energi dan kapasitas infrastruktur.
Dalam konferensi energi CERAWeek di Houston pekan lalu, para eksekutif industri minyak memperingatkan bahwa risiko pasokan belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini, sehingga membuka potensi kenaikan lebih lanjut yang dapat berdampak luas pada ekonomi global.
"Kita sedang menghadapi pertanyaan besar seputar pertumbuhan global. Karena jika harga energi melonjak 30 persen, itu akan merugikan konsumen, itu akan merugikan perusahaan,” kata Otto.
Reporter: Nasywa Salsabila
(Febrina Ratna Iskana)