AS dan Uni Eropa telah memberlakukan pembatasan perdaganhan teknologi dengan China dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.
WAIC yang akan berlangsung selama empat hari ini menarik lebih dari 1.000 perusahaan teknologi China. Sekitar 3.000 produk dipamerkan, mulai dari sistem semikonduktor canggih untuk komputasi AI hingga ponsel pintar yang dapat menjalankan aplikasi secara otomatis.
Namun, perhatian pertama tertuju pada visi Xi tentang bagaimana dunia harus menangani potensi dampak AI terhadap keamanan siber dan konflik, serta terhadap lapangan kerja dan ekonomi dunia.
“Kita harus memberlakukan undang-undang dan peraturan, pemantauan teknologi, sistem peringatan dini, dan sistem tanggap darurat, untuk memastikan AI selalu berada di bawah kendali manusia,” kata Xi kepada konferensi tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan perwakilan dari 29 negara termasuk Rusia, Pakistan, dan Indonesia menandatangani perjanjian yang membentuk kelompok kerja sama AI antar pemerintah.