IDXChannel - Ericsson melaporkan laba pada kuartal I-2026 yang sedikit di bawah ekspektasi pasar, dipicu kenaikan biaya chip akibat tren kecerdasan buatan (AI) serta melemahnya penjualan di Amerika Utara.
Dilansir dari CNA pada Jumat (17/4/2026), perusahaan mencatat laba operasional yang disesuaikan sebesar 5,2 miliar krona Swedia atau sekitar Rp9,7 triliun.
Angka ini berada di bawah proyeksi analis yang disurvei Infront sebesar 5,4 miliar krona (Rp10,1 triliun).
Sebagai salah satu pemasok utama peralatan jaringan telekomunikasi di Barat bersama Nokia, Ericsson masih mengandalkan pasar Amerika Serikat (AS) sebagai pendorong utama bisnisnya, meski hubungan transatlantik tengah menghadapi ketegangan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Eksposur Ericsson di pasar AS cukup besar, terutama setelah memperoleh kontrak senilai USD14 miliar (Rp240,5 triliun) dengan operator AT&T pada 2023, yang diharapkan dapat mengimbangi perlambatan investasi telekomunikasi di wilayah lain.