Di sisi lain, lini bisnis ponsel pintar (smartphone) Samsung justru mulai menghadapi tekanan margin karena mahalnya harga komponen chip internal ini menggerus keuntungan, meskipun perusahaan telah menaikkan harga jual gawai ke konsumen.
Dalam jangka panjang, JPMorgan menyoroti risiko keberlanjutan alokasi belanja modal (capital expenditure) dari para penyedia layanan komputasi awan (cloud providers). Saat ini, porsi belanja memori AI mengambil jatah hingga 52 persen dari total anggaran mereka dan diproyeksikan melebihi 70 persen pada tahun depan.
Investor kini mulai menuntut bukti konkret apakah terobosan layanan AI komersial mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan riil demi menjustifikasi mahalnya investasi infrastruktur komputasi tersebut.
Jika tren belanja ini melambat, hal tersebut berisiko membayangi proyeksi jangka panjang Samsung yang berkomitmen mengucurkan investasi jumbo senilai USD2,07 triliun (sekitar Rp37.239,3 triliun) bersama SK Hynix untuk memperluas kapasitas pabrik domestik di Korea Selatan hingga tahun 2040 mendatang. (Reporter: Eugenia Siregar) (Wahyu Dwi Anggoro)