Awalnya, tingginya biaya investasi menjadi alasan Meta tetap bertahan di metaverse. CEO Meta, Mark Zuckerberg, bahkan sempat memproyeksikan metaverse akan menjangkau satu miliar pengguna dan menghasilkan ratusan miliar dolar dari aktivitas ekonomi digital.
Namun, arah bisnis berubah sejak kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT pada akhir 2022. Meta pun mulai mengalihkan fokusnya ke pengembangan AI, didukung oleh tim riset yang dipimpin ilmuwan Yann LeCun.
Perubahan strategi ini berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. Pendapatan iklan membaik dan harga saham Meta pulih signifikan hingga hampir tiga kali lipat dari posisi terendah pada 2022.
Sementara itu, bisnis metaverse terus mengalami tekanan. Pada Januari 2026, Meta memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja di Reality Labs atau sekitar 1.500 karyawan serta menutup sejumlah studio game VR.
Vice President Content Reality Labs Meta, Samantha Ryan, menyatakan perusahaan masih berkomitmen pada pengembangan VR, meskipun dengan pendekatan berbeda.