Perusahaan, yang mencatatkan kerugian bersih sebesar 670,90 miliar yen setahun sebelumnya, telah mendorong upaya perampingan besar-besaran untuk memulihkan profitabilitas, termasuk penutupan tujuh pabrik kendaraan di Jepang dan luar negeri serta pengurangan 20.000 pekerja secara global hingga tahun fiskal 2027.
Perusahaan mengatakan dampak tarif AS terhadap laba operasinya mencapai 286 miliar yen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 275 miliar yen.
Selama tahun fiskal yang baru saja berakhir, penjualan global mencapai 3,15 juta unit, turun 5,8 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk tahun fiskal saat ini hingga Maret mendatang, perusahaan memperkirakan laba bersih sebesar 20 miliar yen.
Laba operasionalnya diproyeksikan melonjak 3,4 kali lipat menjadi 200 miliar yen dengan penjualan naik 8,3 persen menjadi sebesar 13 triliun yen. (Wahyu Dwi Anggoro)