Perilaku Pembeli Berubah
Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak dapat memicu perubahan struktural dalam kebiasaan konsumen saat membeli mobil. Krisis energi tahun 1970-an, misalnya, membuat pembeli mobil di AS beralih ke kendaraan yang lebih kecil, yang menguntungkan produsen mobil Jepang dan menggerus pangsa pasar pesaing domestik mereka.
Analis mengatakan kenaikan tajam harga bahan bakar belakangan ini kemungkinan belum akan langsung mengubah pola pembelian mobil baru secara signifikan. Biasanya, dibutuhkan periode harga tinggi yang berlangsung cukup lama, atau harga mencapai ambang psikologis tertentu, sebelum konsumen beralih ke pilihan yang lebih hemat bahan bakar.
“Perilaku konsumen sangat reaktif terhadap harga bensin, tapi biasanya harus mencapai angka bulat tertentu,” kata Direktur intelijen ekonomi dan pasar di CarGuru, Kevin Roberts.
Ambang USD4 per galon, kata dia, mungkin jadi titik penting mengingat itu menjadi titik lonjakan minat mobil listrik saat krisis minyak terakhir pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Zach Xavier, seorang pelanggan di AS, tidak ingin menunggu. Ia mengunjungi Recharged, dealer mobil listrik bekas di Richmond, Virginia, untuk menukar SUV berbahan bakar bensin dengan mobil listrik, sekaligus membeli satu mobil listrik kecil tambahan.
“Saya ingin masuk lebih dulu sebelum semua orang panik,” katanya.
Sejauh ini, kenaikan harga belum terlalu memengaruhi pembeli mobil baru di AS, menurut aktivitas di beberapa situs riset kendaraan.
CarGurus menyebutkan pada pekan lalu bahwa mereka belum melihat perubahan besar dalam pencarian mobil listrik. Sementara itu, situs lain, Edmunds, melaporkan bahwa porsi konsumen yang mencari kendaraan listrik pada minggu pertama setelah perang dimulai hanya naik sedikit, menjadi 22,4 persen dari 20,7 persen pada minggu sebelumnya.
(NIA DEVIYANA)