sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Toyota Diproyeksi Kehilangan Rp74,67 Triliun akibat Perang Iran

Technology editor Tim IDXChannel
08/05/2026 17:37 WIB
Toyota memperkirakan dampak perang di Iran akan membebani kinerja perusahaan sekitar USD4,3 miliar atau setara Rp74,67 triliun pada tahun fiskal ini.
Toyota Diproyeksi Kehilangan Rp74,67 Triliun akibat Perang Iran. (Foto: Inews Media Group)
Toyota Diproyeksi Kehilangan Rp74,67 Triliun akibat Perang Iran. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Toyota memperkirakan dampak perang di Iran akan membebani kinerja perusahaan sekitar USD4,3 miliar atau setara Rp74,67 triliun pada tahun fiskal ini. 

Dilansir dari CNA pada Jumat (8/5/2026), perkiraan tersebut sampai saat ini merupakan yang terparah di antara perusahaan global.

Produsen mobil terbesar di dunia itu melaporkan penurunan laba kuartalan hampir 50 persen dan memperkirakan laba setahun penuh turun seperlima pada tahun fiskal yang baru dimulai. 

Di sisi lain, Toyota memperkirakan penjualan mobil hybrid akan menembus 5 juta unit untuk pertama kalinya tahun ini. Kondisi tersebut menunjukkan dampak yang tidak merata dari krisis Timur Tengah, di mana kenaikan harga energi mendorong konsumen beralih ke kendaraan hemat bahan bakar.

Toyota mencatat laba operasional sebesar 569,4 miliar yen atau sekitar Rp63,1 triliun untuk periode tiga bulan hingga 31 Maret, turun dibandingkan 1,1 triliun yen (Rp121,9 triliun) pada periode yang sama setahun sebelumnya. 

Untuk tahun fiskal berjalan, perusahaan memperkirakan laba operasional sebesar 3 triliun yen (Rp332,5 triliun).

Proyeksi itu berada jauh di bawah estimasi median sebesar 4,59 triliun yen (Rp508,7 triliun) dalam survei LSEG terhadap 23 analis. 

Saham Toyota sempat turun setelah laporan dirilis dan ditutup melemah sekitar 2,2 persen, mencapai level terendah sejak pertengahan Oktober.

“Ini bukan tentang mengerem total, tetapi tentang mengidentifikasi pemborosan satu per satu dan mengubah struktur sedikit demi sedikit, serta melakukan reformasi,” ujar CEO baru Toyota, Kenta Kon, yang mulai menjabat bulan lalu.

Kon menekankan Toyota masih mampu membukukan laba operasional hampir 3,8 triliun yen (Rp421,15 triliun) pada tahun fiskal sebelumnya meski lingkungan bisnis mengalami perubahan signifikan.

Secara keseluruhan, Toyota memperkirakan dampak krisis Timur Tengah mencapai sekitar 670 miliar yen (Rp74,26 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027. Nilai tersebut lebih besar dibanding perkiraan banyak perusahaan besar lainnya, termasuk maskapai penerbangan.

Toyota memperkirakan sekitar 400 miliar yen (Rp44,3 triliun) berasal dari kenaikan biaya material dan bahan bakar, sementara sekitar 270 miliar yen (Rp29,9 triliun) berasal dari penurunan volume penjualan serta keterlambatan logistik.

Lonjakan harga energi terbaru menambah tekanan bagi industri otomotif global yang juga tengah menghadapi tarif AS serta kebangkitan produsen mobil asal China. 

Toyota sebelumnya juga menyebut penjualannya di Timur Tengah turun tajam pada Maret setelah distribusi ke kawasan tersebut terganggu. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement