Untuk tahun fiskal berjalan, perusahaan memperkirakan laba operasional sebesar 3 triliun yen (Rp332,5 triliun).
Proyeksi itu berada jauh di bawah estimasi median sebesar 4,59 triliun yen (Rp508,7 triliun) dalam survei LSEG terhadap 23 analis.
Saham Toyota sempat turun setelah laporan dirilis dan ditutup melemah sekitar 2,2 persen, mencapai level terendah sejak pertengahan Oktober.
“Ini bukan tentang mengerem total, tetapi tentang mengidentifikasi pemborosan satu per satu dan mengubah struktur sedikit demi sedikit, serta melakukan reformasi,” ujar CEO baru Toyota, Kenta Kon, yang mulai menjabat bulan lalu.
Kon menekankan Toyota masih mampu membukukan laba operasional hampir 3,8 triliun yen (Rp421,15 triliun) pada tahun fiskal sebelumnya meski lingkungan bisnis mengalami perubahan signifikan.