Secara keseluruhan, Toyota memperkirakan dampak krisis Timur Tengah mencapai sekitar 670 miliar yen (Rp74,26 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027. Nilai tersebut lebih besar dibanding perkiraan banyak perusahaan besar lainnya, termasuk maskapai penerbangan.
Toyota memperkirakan sekitar 400 miliar yen (Rp44,3 triliun) berasal dari kenaikan biaya material dan bahan bakar, sementara sekitar 270 miliar yen (Rp29,9 triliun) berasal dari penurunan volume penjualan serta keterlambatan logistik.
Lonjakan harga energi terbaru menambah tekanan bagi industri otomotif global yang juga tengah menghadapi tarif AS serta kebangkitan produsen mobil asal China.
Toyota sebelumnya juga menyebut penjualannya di Timur Tengah turun tajam pada Maret setelah distribusi ke kawasan tersebut terganggu. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)