"Modalnya nekat. Ketidaktahuan justru menyelamatkan saya. Saat itu saya tidak punya utang Dolar AS. Tetapi, karena tidak tahu, dari Rp 15 miliar yang dianggarkan, biaya pembangunan pabrik membengkak sampai Rp 30 miliar," kata Irwan seperti dikutip dari TheJakartaPost.
Seiring waktu dengan investasi yang ditanamkannya sejak awal, berbagai produk seperti Kuku Bima hingga Tolak Angin pun lahir dari tangan dingin Irwan karena melihat pasar potensial yang belum tergarap dengan baik. Melalui modernisasi pabrik dan pengolahan yang sesuai standar kesehatan nasional, Irwan pun dikenal sebagai pionir bisnis jamu modern di Indonesia.