AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

The Founder: Irwan Hidayat, Sang Pionir Bisnis Jamu Modern (Part 1)

THE FOUNDER
Rabu, 10 Oktober 2018 06:00 WIB
Membangun bisnis jamu tidak semudah menuang air ke dalam gelas, setidaknya itu yang dialami CEO PT Sidomuncul Irwan Hidayat.
Irwan Hidayat, Pendiri Jamu Sido Muncul
Irwan Hidayat, Pendiri Jamu Sido Muncul

IDXCHANNEL- Membangun bisnis jamu tidak semudah menuang air ke dalam gelas, setidaknya itu yang dialami CEO PT Sidomuncul Irwan Hidayat. Dikenal sebagai perusahaan jamu modern terbesar di Indonesia, Irwan memulainya dengan melakukan modernisasi pabrik dan diterapkan sesuai standar kesehatan nasional selama puluhan tahun.      

Namun bisnis Sidomuncul sejatinya dirintis dengan tidak mudah. Dikutip dari laman TheJakartaPost, pada 1972 merupakan titik awal karena terjadi pengalihan nahkoda bisnis perusahaan kepada Irwan. Sayangnya, saat itu bisnis tersebut meninggalkan masalah yang akhirnya memaksa Irwan dan saudaranya untuk memperbaiki perusahaan.

Bahkan, perusahaan menanggung utang dan hampir tidak memiliki aset. Utang bahan baku setara dengan 30 bulan omzet perusahaan, sedangkan aset pabrik hanya 600 meter persegi dan tidak memiliki mesin untuk produksi.

Melihat hal tersebut Irwan tidak tinggal diam, dirinya melakukan berbagai pembenahan termasuk sejumlah eksperimen dari sisi produk. Puncaknya, Sidomuncul memutuskan untuk mendirikan pabrik pada 1997 dan memproduksi jamu secara mekanis, memenuhi standar farmasi dan modern dengan peralatan mutakhir.

Tak hanya modernisasi di sektor mesin, pada areal seluas 32 hektar, Irwan turut membangun laboratorium seluas 3.000 meter persegi dengan biaya sekitar Rp2,5 miliar dan pabrik seluas tujuh hektar, termasuk pabrik mi. Seiring waktu, di areal tersebut juga ikut dikembangkan sarana agrowisata seluas 1,5 hektar.

"Modalnya nekat. Ketidaktahuan justru menyelamatkan saya. Saat itu saya tidak punya utang Dolar AS. Tetapi, karena tidak tahu, dari Rp 15 miliar yang dianggarkan, biaya pembangunan pabrik membengkak sampai Rp 30 miliar," kata Irwan seperti dikutip dari TheJakartaPost.

Seiring waktu dengan investasi yang ditanamkannya sejak awal, berbagai produk seperti Kuku Bima hingga Tolak Angin pun lahir dari tangan dingin Irwan karena melihat pasar potensial yang belum tergarap dengan baik. Melalui modernisasi pabrik dan pengolahan yang sesuai standar kesehatan nasional, Irwan pun dikenal sebagai pionir bisnis jamu modern di Indonesia. 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD