AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

75 Persen Masyarakat RI Unbankable, BEI Sebut Bank Digital Jadi Peluang

BANKING
Anggie Ariesta
Jum'at, 24 September 2021 20:04 WIB
Komisaris BEI Pandu Satria Sjahrir mengatakan, maraknya bank digital menjadi peluang para penyedia pendanaan berbasis platform digital diluar perbankan.
75 Persen Masyarakat RI Unbankable, BEI Sebut Bank Digital Jadi Peluang (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, bahwa masih ada 75% masyarakat yang belum memiliki akses ke perbankan. Padahal, dengan tren digitalisasi, peluang investasi dan akses ke perbankan bisa lebih besar. 

Komisaris BEI Pandu Satria Sjahrir mengatakan, maraknya bank digital menjadi peluang para penyedia pendanaan berbasis platform digital diluar perbankan. 

“Mungkin secara garis besar bukan melihat dari sisi tren, kalau mau melihat garis besarnya kan 75% masyarakat Indonesia tidak memiliki akses bank. Jadi apa yang dilakukan temen-temen dalam berbisnis di dunia teknologi atau dunia digital sebenarnya mereka tuh ingin meng-address masalah terbesar dimana 3/4 dari masyarakat Indonesia tidak memiliki akses bank,” ujar Pandu yang juga Ketua Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) yang digelar virtual di Jakarta, Jumat (24/9/2021). 

Menurut Pandu, under-bank seperti itu sekarang tinggal bagaimana mereka berinvestasi mewujudkan kebutuhan menabung dan akses kredit masyarakat. 

"Itu bahasa kerennya kan under-bank bagaimana under-bank itu jadi bank-able jadi sekarang yang dilakukan adalah berinvestasi menggunakan memang status-status bank yang either Tbk maupun non Tbk dimana itu penggunaan teknologinya memberi akses lebih mudah untuk 3/4 masyarakat Indonesia untuk menabung ataupun akses kredit," jelas dia. 

Prospek bank digital sendiri, kata Pandu, akan lebih berkembang jika mau bertumbuh atau berkolaborasi. Sebab menilik sejarah di Amerika Serikat pada 10 tahun lalu market capital-nya bertambah 100% pada saat ini. 

"Jadi menurut saya baik bank yang ada sekarang orang menyebutnya tradisional kalau berkembang akan lebih baik, bank yang menggunakan akses financial technology juga akan bertumbuh dengan lebih baik lagi, karena marketnya kalau dulu 1/4 masyarakat Indonesia sekarang 100%," ujar dia. 

Sejalan dengan Pandu, Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarrudin mengatakan, ekosistem layanan bank digital yang mereka tawarkan memang punya target membantu para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). 

"Ekosistem layanan bank digital ini kita kembangkan misalnya UMKM kan untuk modal kerja mereka bagaimana dia yang dia butuhkan untuk produksi dengan mudah pakai gadgetnya untuk menerima dana yang akan dipinjam," kata Agus. 

Dengan kolaborasi Bank Banten dengan Amazon beberapa waktu lalu, Agus optimis bahwa penyaluran pendanaan ke UMKM bisa terkontrol sehingga mengurangi dampak kecurangan atau fraud yang selama ini jadi masalah. 

"Kita pakai big data, UMKM itu bagaimana siklus bisnisnya kita tahu, sangat efisien dan Bank Banten ada di tengahnya jadi pendapatan berbasis komisi juga meningkat," tutup Agus. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD