AALI
9725
ABBA
224
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1480
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1165
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1095
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
570
AHAP
71
AIMS
494
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3240
AKSI
785
ALDO
870
ALKA
242
ALMI
236
ALTO
318
Market Watch
Last updated : 2021/05/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
468.07
-0.98%
-4.61
IHSG
5928.31
-0.7%
-41.93
LQ45
880.72
-0.93%
-8.22
HSI
28610.65
-0.09%
-26.81
N225
29357.82
0.09%
+26.45
NYSE
0.00
-100%
-16348.41
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,290
Emas
835,733 / gram

Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga 3,50 Persen

BANKING
Rina Anggraeni/Sindonews
Kamis, 18 Maret 2021 08:26 WIB
Bank Indonesia diperkirakan akan menahan suku bunganya di level 3,50 persen.
Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga 3,50 Persen

IDXChannel - Bank Indonesia diperkirakan akan menahan suku bunganya di level 3,50 persen. Pasalnya dengan suku bunga saa ini sudah dianggap mampu menjaga stabilitas keuangan nasional serta angka inflasi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan suku bunga acuan BI di level 3,5% saat ini diperkirakan masih konsisten dengan untuk menjangkar ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mempertimbangkan volatilitas rupiah yang terindikasi dari rata-rata one-month implied volatility yang meningkat menjadi 8,1% sepanjang bulan Maret dari  dari Februari 2020.

"Ini yang tercatat di kisaran 7,8%, yang selanjutnya mendorong pelemahan rupiah sebesar 2,3% secara rata-rata pada bulan Maret  dibandingkan bulan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tren," kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Kamis (18/3/2021).

Lalu, ada peningkatan yield UST tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan inflasi AS dalam jangka pendek sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi AS yang didukung oleh rilis data ekonomi AS yang menunjukkan tren yang terus membaik. Tren kenaikan yield UST telah mendorong kenaikan yield obligasi global termasuk mendorong kenaikan yield SUN 10 tahun yang saat ini berada di level 6,77%, meningkat 16 bps dibandingkan akhir Februari  atau meningkat 88 bps dibandingkan akhir tahun 2020.


"Kenaikan yield SUN tersebut disertai dengan penurunan kepemilikan asing terhadap SBN sebesar USD1,24miliar pada bulan Maret ini atau kepemilikan asing terhadap SBN telah turun sekitar USD1,53miliar. Keputusan RDG BI pada bulan ini akan sangat dipengaruhi oleh hasil keputusan Fed dalam FOMC bulan ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap rendah dan akan tetap melanjutkan program pembelian obligaai pemerintah AS," katanya. 

Selain itu Fed menyampaikan proyeksi ekonomi AS hingga 2023 yang mengindikasikan bahwa indikator nflasi AS diperkirakan meningkat menjadi 2,4% pada tahun ini namun cenderung melandai menjadi 2,0-2,1% hingga 2022-2023, yang mengindikasikan kenaikan inflasi AS bersifat sementara.


Oleh sebab itu, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya mengantisipasi arah suku bunga Fed yang selanjutnya akan mendorong daya tarik aset keuangan Rupiah sedemikian sehingga akan mendorong stabilitas nilai tukar rupiah. 

"Dengan upaya mendorong terciptanya stabilitas rupiah serta masih berlanjutnya transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial BI yang direspon juga oleh tren penurunan suku bunga perbankan diharapkan akan tetap mendukung pemulihan ekonomi domestik dalam jangka pendek ini," tandasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD