"Tapi kami melihat (BI Rate) bisa mencapai 6,75 persen dan implikasinya adalah cost. Implikasinya adalah rate KPR yang pasti lebih mahal, implikasinya permintaan akan rumah dan permintaan-permintaan KPR itu pasti akan tertekan, serta implikasinya perjalanan bisnis PT SMF yaitu menghadapi tantangan," tutur Martin.
Dia menambahkan, bank sentral dalam konteks kebijakan moneter semestinya mengambil posisi yang agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebab, belanja negara masih cukup tinggi dan cadangan devisa juga tidak memadai.
"Harapannya ketika BI rate itu naik, nanti investor dari luar negeri melihat bahwa investasi di Indonesia itu diuntungkan, maka dia akan taruh dolarnya dan menukar ke rupiah, sehingga tekanan terhadap rupiah itu turun dan nilai tukar kita membaik tidak terdepresiasi," kata Martin.
(DESI ANGRIANI)