sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bos Bank Mandiri Ungkap Tantangan Perbankan 2026, Geopolitik hingga Suku Bunga

Banking editor Anggie Ariesta
21/04/2026 20:30 WIB
Ketidakpastian global yang dipicu eskalasi geopolitik serta dinamika ekonomi domestik menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas kinerja perseroan.
Bos Bank Mandiri Ungkap Tantangan Perbankan 2026, Geopolitik hingga Suku Bunga. Foto: iNews Media Group.
Bos Bank Mandiri Ungkap Tantangan Perbankan 2026, Geopolitik hingga Suku Bunga. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Riduan, memaparkan sejumlah tantangan krusial yang membayangi industri perbankan nasional di sisa 2026.

Ketidakpastian global yang dipicu eskalasi geopolitik serta dinamika ekonomi domestik menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas kinerja perseroan.

Dalam konferensi pers kinerja kuartal I-2026, Riduan menjelaskan situasi global masih berisiko mengganggu rantai pasok dan memicu volatilitas harga komoditas. Hal ini secara tidak langsung menekan pasar keuangan, baik di level regional maupun nasional.

"Paling utama adalah ketidakpastian global dan situasi domestik akibat dari pengaruh global dan maupun kondisi internal dari Indonesia. Kemudian dinamika suku bunga serta kualitas kredit pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi," kata Riduan dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri, Selasa (21/4/2026).

Dari sisi internal, Bank Mandiri mencermati adanya tekanan pada harga energi serta potensi pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi ini harus diwaspadai karena dapat memengaruhi profil risiko debitur, terutama mereka yang bergerak di sektor komoditas yang sensitif terhadap fluktuasi harga global.

Selain itu, arah kebijakan suku bunga masih menjadi variabel yang penuh ketidakpastian karena sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar serta laju inflasi.

Untuk memitigasi berbagai risiko tersebut, Riduan menegaskan Bank Mandiri akan menempuh langkah preventif melalui penyaluran kredit yang lebih selektif dan penguatan ekosistem digital.

"Di saat yang sama kami juga menjaga kualitas pertumbuhan melalui penyaluran kredit yang selektif ke sektor-sektor yang prospektif dan resilient, serta monitoring portfolio secara ketat serta stress testing secara berkala," ujarnya. 

Meski menghadapi tantangan berat, Bank Mandiri optimistis kualitas asetnya tetap kokoh. Per Maret 2026, bank berkode saham BMRI ini berhasil menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di level 0,98 persen dengan NPL coverage ratio mencapai 245 persen.

Perseroan juga menyiapkan bantalan permodalan yang tebal guna menghadapi berbagai skenario ekonomi di masa depan.

"Pada saat yang sama kami juga menjaga buffer permodalan yang kuat dengan CAR di atas 19 persen untuk menghadapi berbagai skenario tantangan ke depan," kata Riduan.

Dalam menghadapi dinamika suku bunga, Bank Mandiri memilih untuk fokus pada penguatan struktur pendanaan, khususnya dana murah (CASA) yang berasal dari transactional banking. Strategi ini dijalankan melalui akselerasi transaksi nasabah di ekosistem digital guna mendorong pertumbuhan fee-based income yang berkelanjutan.

Dengan demikian, Riduan menegaskan komitmen bank dalam mendukung agenda strategis pemerintah, termasuk pembiayaan sektor UMKM.

“Dengan fundamental yang kuat, Bank Mandiri optimis dapat menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peran sebagai agent of development bagi pembangunan perekonomian Indonesia,” ujar dia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement