sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BRI Cetak Laba Rp57,132 Triliun, Komitmen Dukung Asta Cita dan Fokus Perkuat Ekonomi Rakyat

Banking editor Nia Deviyana
26/02/2026 20:13 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil menutup 2025 dengan kinerja bisnis yang solid di tengah laju ekonomi global yang termoderasi.
BRI Cetak Laba Rp57,132 Triliun, Komitmen Dukung Asta Cita dan Fokus Perkuat Ekonomi Rakyat. Foto: BRI.
BRI Cetak Laba Rp57,132 Triliun, Komitmen Dukung Asta Cita dan Fokus Perkuat Ekonomi Rakyat. Foto: BRI.

Selanjutnya, dalam melakukan transformasi, BRI juga membuka sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan new growth engines. 

Di segmen Consumer, ekspansi difokuskan padapayroll loan, penguatan KPR melalui kerja sama developer tier-1, percepatan auto loan melalui sinergi dengan BRI Finance, serta pengembangan wealth management.

Sebagai bagian integral dari agenda transformasi menyeluruh BRIVolution Reignite, fase transformasi ini turut diiringi dengan peluncuran penyegaran identitas korporasi melalui inisiatif corporate rebranding dengan semangat baru, "Satu Bank Untuk Semua" yang sukses dilaksanakan pada Desember 2025 lalu. 

Melalui semangat baru "Satu Bank Untuk Semua", pembaruan ini merefleksikan komitmen BRI untuk tetap relevan, adaptif, dan hadir di setiap fase kehidupan masyarakat. 

BRI berupaya memastikan bahwa setiap ambisi, sekecil apa pun, dapat terwujud serta memberikan dampak nyata bagi kemajuan negeri. Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 pun menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan. Tercatat, total aset BRI tumbuh 7,2 persen YoY, menjadi Rp2.135 triliun. 

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid, didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA) yang terus menguat. Di mana total dana pihak ketiga tercatat tumbuh 7,4 persen YoY menjadi Rp1.467 triliun.

Di samping itu, porsi dana murah yang terus meningkat, memberikan dampak yang positif terhadap Cost of Fund (CoF) BRI. Tercatat CoF dana pihak ketiga pada akhir 2025 sebesar 2,9 persen atau membaik dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar 3,1 persen.

Pada sisi intermediasi, kredit BRI tumbuh 12,3 persen YoY menjadi Rp1.521 triliun, dengan fokus penyaluran kepada segmen UMKM. Capaian ini melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2025 yang sebesar 9,6 persen. 

Pertumbuhan tersebut tetap dijaga secaraprudent dan sehat, tercermin dari rasio NPL sebesar 3,07 persen pada akhir Triwulan IV-2025. 

Pada saat yang sama, Loan at Risk (LaR) berhasil ditekan dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen di akhir 2025.

"Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir Triwulan IV 2025 BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp57,132 triliun," kata Hery.

Direktur Treasury & International Banking BRI Faridha Thamrin pun menyampaikan bahwa pertumbuhan aset selama 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar Rp167 triliun YoY yang sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM. 

Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sector riil, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sebagai pilar utama perekonomian nasional.

Di sisi Dana Pihak Ketiga, fokus strategi BRI untuk penguatan CASA terlihat dari pertumbuhan Giro yang mencapai 19,7 persen secara year on year dan pertumbuhan tabungan sebesar 7,9 persen YoY. 

Ini menandakan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat dengan semakin kuatnya dana murah Perseroan.

Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA meningkat 331 bps YoY, didorong oleh pertumbuhan tabungan ritel yang konsisten. Secara konsolidasi, total DPK tumbuh 7,4 persen YoY menjadi Rp1.466,8 triliun, dengan pertumbuhan CASA mencapai 12,7 persen YoY. 

Kenaikan giro mencapai 19,7 persen YoY, dan tabungan tumbuh 7,9 persen YoY, sehingga mendorong CASA ratio meningkat hingga 70,6 persen, menandakan biaya dana yang semakin efisien.

Dari sisi segmen, non-wholesale menjadi motor utama, terutama tabungan yang terus meningkat dan menopang stabilitas dana murah. Sementara, wholesale relatif stabil, dengan pergeseran komposisi ke giro yang tumbuh kuat, sementara deposito cenderung moderat.

Secara keseluruhan, ini menunjukkan strategi BRI dalam memperkuat transaction-led relationships, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kualitas pendanaan yang lebih berkelanjutan.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7
Advertisement
Advertisement