"Dulu pertanyaannya adalah seberapa cepat kita bisa bertumbuh, sekarang kita mulai bertanya seperti apa bentuk pertumbuhan yang ingin dibangun melalui tata kelola dan kualitas layanan yang berkelanjutan. Fokus berikutnya bukan hanya menciptakan produk baru, tetapi bagaimana teknologi dapat memperluas akses dan menghubungkan masyarakat dengan pilihan keuangan yang lebih beragam," kata Firlie.
Meski menunjukkan tren profitabilitas yang solid, industri fintech masih dihadapkan pada tantangan pemerataan dan kesiapan sumber daya manusia. Data AFTECH mencatat sekitar 66 persen perusahaan masih mengalami defisit talenta terampil di bidang kecerdasan buatan dan big data, sementara 74 persen basis pengguna transaksi digital saat ini masih terpusat di kawasan Jabodetabek.
Pemerataan penetrasi pengguna ke luar Pulau Jawa dan pemenuhan tenaga ahli digital menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diakselerasi melalui kolaborasi lintas sektor. Terbukanya akses ke pasar modal global dan sinergi bersama industri perbankan konvensional diyakini dapat memperkokoh posisi fintech sebagai penggerak utama transformasi ekonomi digital.
"Empat temuan ini menunjukkan bahwa industri fintech Indonesia semakin matang baik dari sisi bisnis maupun teknologi, meski tantangan berikutnya adalah memperluas jangkauan manfaat di luar Jabodetabek dan memenuhi talenta yang dibutuhkan. Fintech hari ini bukan sekadar alternatif bagi lembaga keuangan yang ada, tetapi sudah menjadi mitra strategis dalam membangun sistem keuangan masa depan," kata Firlie.
(Dhera Arizona)