AALI
9675
ABBA
314
ABDA
6975
ABMM
1360
ACES
1260
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3450
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2280
AGAR
360
AGII
1410
AGRO
1320
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
68
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1075
AKRA
735
AKSI
660
ALDO
1405
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
274
Market Watch
Last updated : 2022/01/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.18
0.2%
+0.99
IHSG
6645.51
0.52%
+34.35
LQ45
949.77
0.29%
+2.75
HSI
23550.08
-1.08%
-256.92
N225
26717.34
2.09%
+547.04
NYSE
0.00
-100%
-16236.51
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,364
Emas
829,485 / gram

Kilas Balik Aksi Korporasi Banking Terbesar 2021, Ada Merger Bank Syariah hingga Rights Issue

BANKING
Kunthi Fahmar Sandy
Senin, 20 Desember 2021 09:53 WIB
Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi di 2021.
Kilas Balik Aksi Korporasi Banking Terbesar 2021, Ada Merger Bank Syariah hingga Rights Issue (FOTO:MNC Media)
Kilas Balik Aksi Korporasi Banking Terbesar 2021, Ada Merger Bank Syariah hingga Rights Issue (FOTO:MNC Media)

IDXChannel  - Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi di 2021. 

Adapun aksi korporasi emiten perbankan mulai dari penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, merger bank syariah hingga stock split saham. 

Lalu, bank mana saja yang meramaikan aksi korporasi sepanjang 2021? Yuk kita simak kilas baliknya: 

1. Penggabungan bank syariah 

Awal Februari 2021 lalu, BSI atau emiten berkode saham BRIS merupakan hasil penggabungan dari tiga bank syariah besar di Indonesia yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah dengan kinerja masing-masing bank yang sangat baik. 

Melalui merger tiga bank syariah BUMN ini, BSI atau BRIS saat ini memiliki aset lebih dari Rp200 triliun bahkan sudah mulai mendekati angka Rp250 triliun. Kekuatan modal ini tentunya terintegrasi dalam satu entitas bisnis yang jauh lebih kokoh dari sebelum adanya merger. 

Potensi pengembangan bisnis BRIS dinilai akan lebih baik lagi jika rencana penambahan modal yang akan dilakukan BSI dapat terealisasi. Saat ini BRIS juga sudah memiliki basis teknologi yang cukup menopang dalam menggarap pasar digital banking.  

Perseroan pun siap menjadi pemain utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Tanah Air. Hal ini seiring dengan visi pemerintah bahwa Indonesia harus menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah global di masa datang. 

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengungkapkan kesiapan pihaknya menjadi pemain kunci dalam mendongkrak pertumbuhan itu tak terlepas dari potensi ekonomi syariah dalam negeri yang sangat besar. 

“Sebagai bank syariah terbesar, kami bukan hanya ingin handal dalam perbankan syariah saja. Kami ingin menjadi pelaku utama dalam mendorong dan menumbuhkan ekonomi syariah Indonesia. Sehingga potensi ekonomi syariah yang besar ini bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia secara merata. Dan Indonesia bisa menjadi tokoh utama dalam ekonomi syariah dunia,” ujarnya. 

Untuk kinerja BSI pada semester I/2021 tak kalah gemilang, dengan mencatatkan pertumbuhan double digit. 

BSI mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,48 triliun, atau naik sekitar 34,29% secara yoy. Kenaikan laba dipicu oleh pertumbuhan pembiayaan dan DPK yang berkualitas. Dengan kinerja yang positif itu, BSI berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp247,3 triliun hingga Juni 2021. 

Pertumbuhan aset tersebut naik sekitar 15,16% secara yoy. Untuk pembiayaan, BSI menyalurkan Rp161,5 triliun atau tumbuh sekitar 11,73% secara yoy. Dengan angka tersebut, BSI berhasil menguasai pangsa pasar industri perbankan syariah di Indonesia saat ini. 

“Ini tanda yang positif, artinya masyarakat sudah melirik perbankan syariah karena cukup kompetitif. Diharapkan perbankan syariah dapat mengambil peran dan kontribusi yang strategis agar potensi besar ini memberikan manfaat lebih bagi masyarakat,” ujarnya.

2. Stock Split Saham 

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah resmi melakukan stock split sahamnya dengan rasio 1:5 (1 saham dipecah menjadi 5 saham baru). Usai aksi tersebut dilakukan, dalam pebukaan perdagangan hari ini, harga saham BBCA dijual disekitar Rp7.320. 

Seperti diketahui, aksi korporasi stock split ini sebelumnya telah disetujui dengan rasio 1 : 5 (1 saham dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split menjadi sebesar Rp12,5. 

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, dengan harga baru yang mulai diperdagangkan hari ini, perseroan berharap harga saham BCA menjadi relatif terjangkau dan mendapat sambutan positif dari investor, terutama investor pemula yang saat ini aktif berinvestasi di pasar modal.  

“Perseroan berkomitmen untuk selalu menjaga soliditas fundamental BCA melalui pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, sehingga memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham,” katanya. 

Harga saham BBCA dengan nilai nominal baru mulai diperdagangkan pada pasar reguler dan pasar negosiasi pada Oktober 2021 lalu.  

Sebagai informasi, harga saham BBCA pada saat ini berkisar Rp7.320 per saham, atau setara dengan Rp36.600 per saham sebelum stock split. 

Keputusan Perseroan untuk melakukan pemecahan harga saham tersebut didasarkan pada perkembangan pasar modal saat ini, terutama dengan tingginya minat investor ritel termasuk para investor muda untuk berinvestasi di pasar modal. Perseroan berharap aksi korporasi ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan pasar modal dalam negeri. 

Halaman : 1 2 3
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD