Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME+ dan Retail SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1 persen dan 6,0 persen. Pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5 persen menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7 persen. Sementara itu, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2 persen Y-o-Y.
Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), sementara total aset Syariah menyumbang 24,5 persen terhadap total aset Bank (Bank-only).
Melalui Perbankan Syariah, Maybank Indonesia meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. SRIA dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi dalam membiayai suatu badan usaha. Dalam pelaksanaannya, Bank bertindak sebagai arranger, dan hingga kini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.
Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5 persen menjadi Rp35,50 triliun didukung oleh pertumbuhan Giro dan Tabungan (CASA) sebesar 28,8 persen Y-o-Y. Giro tumbuh 60,1 persen menjadi Rp14,22 triliun dan Tabungan tumbuh 1,5 persen menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5 persen Y-o-Y sejalan dengan upaya Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan. Rasio CASA meningkat menjadi 69,1 persen pada Maret 2026 dibandingkan 57,6 persen pada Maret 2025.
Kualitas aset membaik dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2 persen (gross) dan 1,5 persen (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4 persen (gross) dan 1,7 persen (net) pada Maret 2025. Financing-to-Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 85,4 persen.