Sumber pembiayaan rumah tangga melalui bank umum juga menurun dengan pangsa 33,2 persen pada periode tersebut, menurun dibanding Oktober 2023 sebesar 36,3 persen. Pembiayaan KPR juga mengalami penurunan 8,1 persen dibanding Oktober 2023 yang sebesar 10,3 persen. (Lihat grafik di bawah ini.)

- Sektor Bisnis Menjerit
Menurut Bhima, ditahannya suku bunga ini menjadi kabar yang kurang enak bagi pelaku industri terutama UMKM karena mereka tertekan akibat suku bunga tinggi, terutama ketika mereka mengajukan pinjaman baru.
Iklim suku bunga tinggi akan mendorong biaya produksi perusahaan menjadi lebih tinggi. Ini karena para produsen harus membayar bunga yang lebih tinggi untuk pinjaman mereka yang bisa berdampak pada penurunan keuntungan.
Perbankan saat ini juga semakin selektif dalam mendistribusikan kredit dengan tingkat suku bunga yang ada saat ini. Hal ini karena tidak semua sektor usaha memiliki margin keuntungan yang cukup besar untuk dapat menutupi beban bunga.
Ini tercermin sejak akhir tahun lalu dari kebutuhan pembiayaan korporasi pada November 2023 dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang turun di level 14,9 persen, sedikit lebih rendah dibanding SBT 15,7 persen pada Oktober 2023.
BI mencatat, perlambatan kebutuhan pembiayaan korporasi ini disebabkan karena penurunan kegiatan operasional sebagai dampak lemahnya permintaan domestik dan ekspor.
Pelaku usaha akan menggunakan kebutuhan pembiayaan terutama dari dana sendiri (laba ditahan) yang tercatat meningkat dibandingkan Oktober 2023. Sementara opsi menambah pinjaman ke perbankan maupun utang ke perusahaan induk bukan menjadi opsi populer. (Lihat grafik di bawah ini.)

Peluang Penurunan Suku Bunga 2024
Bhima juga menambahkan, penurunan suku bunga BI juga diharapkan terjadi pada tahun ini.
“Diharapkan kuartal II-2024 sudah ada angin segar bagi penurunan suku bunga dengan harapan penurunan hingga 75 bps di tahun ini. Dan ini momentumnya bergantung pada situasi global dan pengendalian inflasi dan tekanan investasi dalam negeri terutama dalam momentum pemilu,” imbuh Bhima
Sejalan dengan pandangan Bhima, Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan ke depan tetap terbuka sejalan dengan arah kebijakan moneter yang pro stabilitas.
Kondisi volatilitas pasar keuangan global yang masih berlangsung juga masih menjadi perhatian bank sentral. Namun menurut Perry, volatilitas global yang masih terjadi lebih terkait dengan kepastian penurunan FFR The Fed.
“Hari ini kita putuskan BI Rate tetap karena kita masih melihat on and off global tadi, dan tentu saja dengan arah ke depan, tentu saja sekali lagi saya sampaikan, ruang penurunan BI-Rate ke depan akan tetap ada,” kata Perry dalam konferensi pers RDG BI.
Menurutnya, ruang penurunan suku bunga acuan mempertimbangkan tiga faktor. Pertama, seberapa cepat penguatan nilai tukar rupiah. Kedua, tetap terkendalinya inflasi, khususnya inflasi inti dan inflasi pangan. Ketiga, perkembangan dukungan kredit dalam pembiayaan ekonomi yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI juga memprediksi siklus kenaikan suku bunga negara maju termasuk FFR telah berakhir. BI juga melihat FFR akan mulai diturunkan pada semester II-2024 sebanyak tiga kali dengan total sebesar 75 basis poin.
“Kesimpulannya kami tetap sabar dan akan tetap masih sabar melihat kondisi dalam negeri dan global, tentu saja ketidaksabaran itu akan tergantung seberapa meredanya kondisi global dan memastikan inflasi terkendali,” tutur Perry.
Dunia usaha juga perlu mengantisipasi rupiah yang masih bisa melemah imbas ketidakpastian kapan The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya dan konflik di Timur Tengah yang masih meluas. Keduanya, dapat mendorong pelemahan rupiah secara signifikan.
Namun, BI melihat kinerja rupiah akan menguat di 2024. Hal ini tercermin dari stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tetap terjaga.
Menurut BI, mata uang Garuda hanya mengalami pelemahan sebesar 1,24 persen selama periode hingga 16 Januari 2024.
“Dari sisi fundamental, kondisi saat ini mendukung untuk mendorong kinerja rupiah, namun kondisi global masih belum dapat dipastikan,” imbuh Perry. (ADF)