sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Inflasi Terkendali, Konsumsi Domestik Diyakini Jadi Penopang Pertumbuhan Awal 2026

Economics editor Anggie Ariesta
15/01/2026 11:51 WIB
Tingkat konsumsi masyarakat yang solid di penghujung 2025 diprediksi terus berlanjut hingga awal 2026.
Inflasi Terkendali, Konsumsi Domestik Diyakini Jadi Penopang Pertumbuhan Awal 2026. Foto: iNews Media Group.
Inflasi Terkendali, Konsumsi Domestik Diyakini Jadi Penopang Pertumbuhan Awal 2026. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Tingkat konsumsi masyarakat yang solid di penghujung 2025 diprediksi terus berlanjut hingga awal 2026. Kondisi ini didukung oleh inflasi yang terjaga serta dorongan musiman menyambut Ramadan dan Idul Fitri pada kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah sebesar 1,5–3,5 persen, yang menunjukkan stabilitas harga di tengah peningkatan aktivitas ekonomi akhir tahun.

Secara bulanan, inflasi Desember 2025 berada di level 0,64 persen (month on month/MoM). Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menilai kenaikan tersebut merupakan sinyal positif dari sisi permintaan.

“Kenaikan ini mencerminkan menguatnya konsumsi masyarakat pada akhir tahun,” ujar Andry dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).

Penguatan daya beli masyarakat juga terkonfirmasi dari pergerakan inflasi inti yang meningkat menjadi 0,20 persen MoM pada Desember 2025, lebih tinggi dibandingkan November yang sebesar 0,17 persen MoM. Selain karena dinamika permintaan domestik, kenaikan harga emas turut memberikan andil pada komponen ini.

Data internal Bank Mandiri memperkuat temuan tersebut, di mana aktivitas belanja masyarakat terekam mengalami lonjakan signifikan.

Aktivitas konsumsi tetap solid pada Desember, tercermin dari kenaikan Mandiri Spending Index (MSI) sebesar 17 persen secara bulanan,” kata Andry.

Di sisi lain, inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) tercatat naik menjadi 0,37 persen MoM, dipicu oleh penyesuaian tarif tiket pesawat dan BBM selama masa libur Natal dan Tahun Baru.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement