AALI
9500
ABBA
274
ABDA
0
ABMM
2420
ACES
705
ACST
167
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
765
ADMF
8175
ADMG
174
ADRO
3080
AGAR
316
AGII
2310
AGRO
850
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
84
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1615
AKRA
1180
AKSI
272
ALDO
770
ALKA
296
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/08 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.01
-0.11%
-0.58
IHSG
7086.85
0.03%
+2.19
LQ45
1007.14
-0.07%
-0.66
HSI
20045.77
-0.77%
-156.17
N225
28249.24
0.26%
+73.37
NYSE
15273.23
0.32%
+49.03
Kurs
HKD/IDR 675
USD/IDR 14,929
Emas
853,771 / gram

OJK Punya Sistem Penilaian Bank Digital, Catat Kelima Aspeknya

BANKING
Shifa Nurhaliza
Kamis, 28 Oktober 2021 13:19 WIB
Piter Abdullah, mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggunakan Digital Maturity Model untuk menilai kadar digitalisasi sebuah bank. 
OJK Punya Sistem Penilaian Bank Digital, Catat Kelima Aspeknya. Foto: (MNC Media)
OJK Punya Sistem Penilaian Bank Digital, Catat Kelima Aspeknya. Foto: (MNC Media)

IDXChannel – Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggunakan Digital Maturity Model untuk menilai kadar digitalisasi sebuah bank. 

Digital Maturity Model ini memiliki lima aspek penilaian, antara lain strategi digital, organisasi dan budaya, teknologi, operasional, dan customer.

“Aspek Strategi Digital ini melingkupi di mana manajemen strategi bank, keuangan dan investasi, digital branding, ekosistem digital, digital market intelligence dan portofolio inovasi. Kemudian, Aspek Organisasi dan budaya melingkupi budaya, kepemimpinan, governance, desain organisasi, talent, dan workforce enablement,” ungkapnya Piter dalam Jago Bootcamp Sesi I di Canggu, Bali pada Kamis (28/10/2021). 

Selain itu, terdapar aspek IT yang melungkupi governance IT, arsitektur IT, pengembangan dan aplikasi IT, managemen data,  jaringan dan security. Selanjutnya aspek operasi yang terdiri dari managemen integrasi layanan, change amangement, smart process management, governance automation, automated resources management.

Dan juga aspek costumer dengan kategori costumer enggagement, pengalaman nasabah, kepercayaan dan persepsi nasabah.

Piter Abdullah menyapaikan bahwa saat ini, fenomena digitalisasi perbankan membuat banyak bank yang mengganggap profilnya sebagai bank digital dan digunakan hanya sebagai gimmick marketing.

“Banyak bank yang menggunakan gimmick hanya demi mengerek valuasi atau harga sahamnya perbankan tersebut,” tegasnya. 

Sebagai sebuah end-to-end platform, lanjut Piter, bank digital banking mencakup front end yang dilihat oleh nasabah, back end yang dilihat oleh bankers melalui server dan panel control admin mereka dan terakhir middleware yang menghubungkan front end dan back end. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD