Apalagi menilik pergerakan situasi sepanjang pekan belakangan ini, suhu ketegangan politik antarnegara memanas menyusul memburuknya konflik antara Amerika Serikat dan Iran paska gempuran koalisi AS dan Israel ke kawasan Teheran.
Efek langsung dari konflik ini sudah memukul bursa saham kawasan Asia yang merosot tajam gara-gara aksi jual massal atau panic-selling, seiring merebaknya ketakutan jika polemik tersebut bakal mendorong inflasi serta merusak tatanan ekonomi dunia.
"Belajar dari berbagai krisis yang pernah kita hadapi, situasi sulit seperti ini harus digunakan untuk memperkuat reformasi dalam semua sektor perekonomian. Beragam kebijakan ekonomi perlu dirumuskan secara terpadu dan selaras guna mendorong kinerja yang semakin baik dan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong ekonomi Indonesia yang lebih dinamis dan berdaya saing," tutur Dian.
(NIA DEVIYANA)