Namun, bank yang memiliki konsentrasi pembiayaan tinggi pada sektor ekonomi dan wilayah penyaluran yang berisiko tinggi terdampak risiko iklim seperti El Nino dapat menghadapi penurunan kualitas aset yang lebih besar dibandingkan bank yang portofolionya lebih terdiversifikasi.
"Risiko ini termasuk dalam kategori physical climate risk yang perlu dimitigasi oleh industri perbankan. Berdasarkan hasil asesmen OJK yang dipublikasikan dalam Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) pada awal tahun 2026 ini, secara agregat, industri perbankan Indonesia masih memiliki permodalan yang memadai, tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dinilai masih cukup.tinggi untuk menjadi buffer dalam menyerap risiko yang dihadapi," tuturnya.
Meskipun demikian, hasil asesmen menunjukkan bahwa risiko fisik dapat memberikan dampak yang serius terhadap perekonomian apabila kita tidak melakukan apapun.
Untuk itu, OJK mendorong industri perbankan agar mulai menyusun rencana transisi, dengan mengintegrasikan dampak risiko iklim ke dalam penyusunan strategi bisnis dan pengambilan keputusan.
Di samping itu, perbankan juga perlu mulai mengalokasikan modal dan pembiayaan ke sektor-sektor ramah lingkungan, serta menciptakan produk keuangan berbasis keberlanjutan.
"Berbagai langkah tersebut merupakan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak risiko iklim, sekaligus memberikan sinyal kepada seluruh sektor ekonomi untuk menghadirkan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
(kunthi fahmar sandy)