sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pefindo: Pinjaman UMKM BIsa Dimaksimalkan Jika Penilaian Kredit Tak Hanya SLIK OJK

Banking editor Rohman Wibowo
28/04/2026 19:12 WIB
Pefindo menilai penyaluran kredit UMKM bisa dimaksimalkan apabila ada penilaian catatan keuangan termasuk skor kredit yang bersifat komprehensif.
Pefindo: Pinjaman UMKM BIsa Dimaksimalkan Jika Penilaian Kredit Tak Hanya SLIK OJK. (Foto: iNews Media Group)
Pefindo: Pinjaman UMKM BIsa Dimaksimalkan Jika Penilaian Kredit Tak Hanya SLIK OJK. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit menilai penyaluran kredit ke level Small Medium Enterprise (SME) atau sektor UMKM bisa dimaksimalkan apabila ada penilaian catatan keuangan termasuk skor kredit yang bersifat komprehensif, alih-alih hanya berkutat SLIK OJK dan riwayat pembayaran tagihan telekomunikasi. 

Direktur Utama Pefindo, Glant Saputrahadi menekankan selama ini kinerja kredit dari lembaga jasa keuangan ke sektor UMKM, terutama perbankan masih tergolong selektif lantaran terhambat penilaian skor kredit. Sehingga akselerasi kredit didapati dalam angka minim jika dibandingkan kredit UMKM dari pinjaman daring.

Padahal, kata Glant, masih ada data penunjang lainnya mulai dari transaksi pembayaran via digital, data penghasilan yang terverifikasi di BJPS Ketenagakerjaan, bahkan hingga riwayat transaksi antara pelaku UMKM dengan supplier atau distributor, yang biasanya bersifat tunai.

"Makanya (penilaian skor kredit) SME itu salah satu ya mungkin pandora box yang harus kita crack. Pembukaan data SLIk OJK tidak cukup. Data alternatif sudah mesti dibuka juga. Khususnya data-data transaksi di QRIS karena mereka transaksi sekarang banyak pakai QRIS," ujar Glant dalam media briefing di kantor Pefindo, Jakarta, Selasa (28/4/2026). 

Glant menitikberatkan penilaian skor kredit mesti dilihat secara objektif. Sebab, parameter penilaian konvensional dikhawatirkan hanya dapat menekan penyaluran kredit, terlebih di sektor UMKM.

"Kalau memang mau besarkan SME ya menurut saya sekurang-kurangnya data kemauan dia (calon debitur) membayar, mesti ada juga. Behaviour orang ini itu mungkin bisa didapatkan dari data Telco, which is itu juga sudah ada," ujar Glant.

Menurut Glant, pihak perbankan tidak ingin mengambil risiko biaya untuk melacak riwayat keuangan calon debitur. Sebab, perbankan berorientasi profitabilitas sehingga penilaian skor kredit masih sebatas data terbuka seperti SLIK OJK dan riwayat pembayaran tagihan telekomunikasi.

"Biasanya itu SME harus ada jaminan. Karena kenapa? Karena bank tidak mempunyai visibility dari data (alternatif) orang ini. Kalau verifikasi itu tidak bisa dilakukan, maka pasti ada risk premium yang ditekankan ke calon debitur," katanya. 

Merujuk data yang dihimpun Pefindo, pertumbuhan kredit perbankan masih terbilang rendah jika dibandingkan pinjaman dari Pindar. Akselerasi kredit di bank umum hanya Rp8.537 triliun atau pertumbuhan sebesar 9,06 persen. Sedangkan, nilai kredit pindar tembus Rp54,7 triliun, dengan tingkat pertumbuhan 197,3 persen.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement