Minat masyarakat terhadap produk berbasis investasi kembali menunjukkan pemulihan yang cukup tajam setelah sempat melandai pada beberapa periode sebelumnya. Kebutuhan finansial pemegang polis yang kian variatif menuntut transparansi tata kelola produk yang lebih ketat.
"Pertumbuhan premi bisnis baru unit link meningkat signifikan 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun, membuktikan permintaan proteksi baru tetap tumbuh dan masyarakat masih mencari solusi yang sesuai tujuan finansialnya. Keberagaman pilihan produk ini perlu diimbangi dengan edukasi dan transparansi agar nasabah memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing," ujar Albertus.
Dari metode pembayaran, tren pergeseran terlihat pada premi tunggal (single premium) yang melonjak 26,3 persen menjadi Rp40,76 triliun karena fleksibilitas penarikan dana yang diminati nasabah. Sebaliknya, premi reguler terkoreksi 2,4 persen menjadi Rp53,99 triliun.
Secara lini bisnis, unit usaha konvensional masih mendominasi dengan kontribusi premi Rp85,18 triliun (naik 12,7 persen), sedangkan unit usaha syariah membukukan premi Rp9,57 triliun (turun 20,2 persen). Berdasarkan segmentasi kepemilikan, segmen perorangan tetap mendominasi lewat perolehan premi Rp75,12 triliun (tumbuh 7,4 persen), sementara segmen kumpulan mencatat kenaikan lebih tinggi sebesar 11,0 persen menjadi Rp19,63 triliun.
Pada kategori premi bisnis baru secara keseluruhan, pencatatan weighted mencapai Rp21,06 triliun (tumbuh 11,5 persen) dan unweighted menembus Rp57,75 triliun (tumbuh 20,5 persen). Kendati demikian, premi lanjutan (renewal) mengalami kontraksi 6,7 persen ke level Rp37,01 triliun.