sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Perluas Pembiayaan Perumahan, BTN (BBTN) Salurkan KPP hingga Rp7,4 Triliun

Banking editor Anggie Ariesta
11/09/2026 21:10 WIB
BTN (BBTN) mengungkapkan realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) secara kumulatif telah menembus Rp7,4 triliun.
Perluas Pembiayaan Perumahan, BTN (BBTN) Salurkan KPP hingga Rp7,4 Triliun. (Foto: iNews Media Group)
Perluas Pembiayaan Perumahan, BTN (BBTN) Salurkan KPP hingga Rp7,4 Triliun. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mengungkapkan realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) secara kumulatif telah menembus Rp7,4 triliun.

Capaian ini terdiri atas penyaluran skema KPP Supply sebesar Rp5,4 triliun dan KPP Demand sebesar Rp2,0 triliun guna memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan.

Direktur Corporate Banking BTN, Helmy Afrisa menjelaskan bahwa program KPP memegang peranan strategis lantaran mampu menopang rantai pasok industri properti sekaligus memberdayakan masyarakat produktif.

“Melalui KPP Supply dan KPP Demand, BTN berupaya memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan. Kami ingin program ini tidak hanya mendorong penyediaan hunian, tetapi juga meningkatkan produktivitas pelaku usaha dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Helmy dalam kegiatan Sosialisasi Kredit Program Perumahan di Menara BTN, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Helmy menguraikan, KPP Supply ditujukan bagi pengembang, kontraktor, dan pedagang bahan bangunan dengan limit kredit hingga Rp5 miliar.

Sementara KPP Demand memberikan fasilitas kredit hingga Rp500 juta bagi UMKM perorangan untuk kebutuhan pembelian, pembangunan, maupun renovasi rumah guna menunjang aktivitas usaha.

Di wilayah Jabodetabek saja, BTN mencatat terdapat 353 peminatan dengan estimasi plafon sebesar Rp424,944 miliar, yang terbagi dalam 57 peminatan KPP Supply (Rp288,970 miliar) serta 296 peminatan KPP Demand (Rp135,974 miliar).

“Besarnya peminatan menunjukkan kebutuhan pembiayaan perumahan datang dari berbagai sisi. Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, developer, kontraktor, toko bahan bangunan, dan pelaku UMKM agar manfaat KPP dapat menjangkau semakin banyak masyarakat,” kata Helmy.

Menurut Helmy, pembiayaan ini dirancang agar sektor hunian mampu mencetak dampak ekonomi berantai bagi peningkatan pendapatan keluarga.

“Bagi masyarakat produktif, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi tempat usaha dan aset yang mendukung peningkatan penghasilan keluarga. Karena itu, kami ingin pembiayaan perumahan turut menciptakan kegiatan usaha, meningkatkan produktivitas, dan mendorong kesejahteraan masyarakat,” kata Helmy.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengapresiasi kinerja BTN yang menjadi penyalur terbesar pada pilar KPP Supply. Maruarar menilai keberadaan KPP efektif menjadi batu loncatan bagi pelaku usaha kecil menengah di sektor properti untuk mengekspansi skala bisnisnya.

“Manfaat program ini sangat luar biasa. Dari sisi supply, subsidi bunganya sangat membantu. Mudah-mudahan, seperti tujuannya, UMKM baik kontraktor, developer maupun toko bangunan bisa naik kelas,” ujar Maruarar.

Maruarar menuturkan, tingginya daya serap pasar mendasari keputusan pemerintah untuk menaikkan kuota alokasi KPP nasional dari semula Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun.

“Programnya boleh baru, belum sampai setahun, tetapi ternyata responsnya sangat positif. Penyerapan sangat tinggi, makanya kuotanya dinaikkan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Dari sisi supply, BTN itu paling tinggi,” kata Maruarar.

Untuk menciptakan dampak ekonomi jangka panjang, Maruarar menggarisbawahi bahwa keberhasilan KPP harus bermuara pada lahirnya pengusaha-pengusaha baru berkaliber besar dari ekosistem perumahan.

“Kita baru bangga kalau 10 atau 15 tahun lagi, UMKM yang kita temui hari ini mengatakan, waktu itu saya masih UMKM, tetapi 10 tahun kemudian saya sudah naik kelas menjadi perusahaan besar yang sukses,” kata Maruarar.

Ia menambahkan bahwa sektor perumahan terbukti memberi efek pengganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penciptaan permintaan bagi industri bahan bangunan dan logistik.

“Ekosistem perumahan sangat luar biasa. Pengembang, developer, kontraktor, toko bangunan, UMKM, semuanya harus solid supaya kita bisa menggerakkan ekonomi,” ujarnya.

Adapun sepanjang Januari hingga 9 September 2026, realisasi penyaluran KPP BTN telah mencapai Rp5,25 triliun dari target Rp10 triliun yang ditetapkan perseroan untuk tahun ini.

“Targetnya besar, harapannya besar. Kerjanya juga harus besar, hatinya besar, jiwanya juga besar bagi Republik dan rakyat Indonesia,” tutur Maruarar. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement