AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Shifting ke Bank Digital Ramai di 2021, Bagaimana Nasibnya Tahun Depan?

BANKING
Kunthi Fahmar Sandy
Senin, 20 Desember 2021 12:14 WIB
Selama 600 tahun sektor perbankan tidak mengalami perubahan signifikan. Justru, hal itu baru terjadi dalam 10 tahun terakhir
Shifting ke Bank Digital Ramai di 2021, Bagaimana Nasibnya Tahun Depan? (FOTO:MNC Media)
Shifting ke Bank Digital Ramai di 2021, Bagaimana Nasibnya Tahun Depan? (FOTO:MNC Media)

Plt. Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia OJK Tony menilai, kehadiran bank digital tidak serta merta menjadi ancaman bagi bank konvensional.  

Pasalnya, bank memiliki segmen pasar yang beragam, mulai dari korporasi, ritel, UMKM, maupun Wealth Management. Sementara itu, segmen pasar bank digital masih mengarah kepada segmen ritel. Pada sisi lain, bank-bank besar umumnya juga telah memperkuat teknologi digitalnya. 

"Jadi apakah Neo Bank akan menjadi ancaman bagi bank konvensional? Kalau di segmen ritel, mungkin iya. Nantinya akan terjadi persaingan di segmen ritel," kata dia. 

Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira menjelaskan, saat ini kebanyakan investor tertarik berinvestasi pada bank digital memiliki faktor yang cukup beragam.  

“Salah satu yang dilihat investor adalah prospek perkembangan perbankan digital di Indonesia sangat menjanjikan. Dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, bank digital diperkirakan membuat persaingan industri perbankan menjadi lebih efisien, jumlah sektor usaha yang dibiayai pinjaman meningkat, serta mampu menciptakan ekosistem digital yang semakin lengkap," kata Bhima. 

Faktor demografi menurut Bhima bukan satu-satu nya yang mampu mendorong masyarakat beralih menggunakan bank digital. “Tidak hanya generasi milenial dan Z yang tertarik menjadi nasabah bank digital, generasi yang lebih senior pun melihat bank digital sebagai sebuah kebutuhan karena layanan cukup lengkap dari tabungan, pinjaman hingga layanan investasi dalam satu platform.” ujar Bhima.  

Kedepan, bank digital yang mampu meningkatkan integrasi layanan dengan platform digital lain serta mampu menjadi leader dalam inovasi teknologi berpotensi menjadi market movers.  

“Integrasi layanan yang dimaksud misalnya nasabah cukup membuka tabungan bank digital di platform e-commerce, sebaliknya nasabah juga bisa lakukan investasi reksadana saham di bank digital tanpa harus membuka akun baru di platform khusus investasi. Ini akan memberikan user experiences yang berbeda dari bank tradisional," sebut dia.  

Dia juga menyarankan agar bank digital mampu mendorong kenaikan literasi keuangan digital, sekaligus penetrasi pinjaman ke sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja.  

“Visi jangka panjang bank digital sudah sesuai dengan inti layanan perbankan yaitu menjadi lembaga intermediasi yang pada akhirnya meningkatkan budaya literasi tidak hanya soal tabungan tapi bagaimana memanfaatkan platform untuk pinjaman produktif, dan berdampak pada munculnya wirausaha-wirausaha baru yang menyerap tenaga kerja secara masif," sebut Bhima.

(SANDY)

Halaman : 1 2 3 Tampilkan semua
Rekomendasi Berita

Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD