Emira menambahkan soal tantangan ke depan adalah bagaimana industri dapat menjawab kebutuhan dana darurat yang sebelumnya tertumpu pada kerabat keluarga besar. Formulasi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi industri asuransi jiwa di tengah pergeseran struktur sosial masyarakat.
"Jadi, unsur proteksi itu bagaimana memasyarakatkan, memasyarakatkannya itu masih PR. Karena budaya masyarakat kita juga bergeser. Dari yang tadinya extended family, semua bisa pinjam kerabatnya, jual kambing kalau sakit, itu di zaman dulu. Sekarang udah enggak bisa. Kalau ada apa-apa, ya bergantung sama inti family, ayah, ibu, anak," ujar dia.
Sementara itu, industri asuransi umum sedang berada dalam fase adaptasi untuk memperkuat daya tahan. Wakil Ketua Umum Bidang Kerjasama Antar Lembaga Hubungan Internasional Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Muhammad Iqbal menyatakan, hadirnya lembaga penjamin polis menjadi sentimen positif yang akan memperkuat kepercayaan masyarakat.
"Ini sudah resiliency mode, ini kita dapat suntikan atau dapat obat baru. Beberapa waktu ke depan akan ada lembaga penjamin polis. Ya. Ini di saat resiliency mode, kita dapat tambahan booster supaya masyarakat lebih trust sama industri kita, I come on, I good. Karena ada yang jamin seperti di bank ada LPS, gitu ya," ujar Iqbal.