IDXChannel - Dari sebuah dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter, Ibu Astuti belajar bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Justru dari ruang sempit itulah, ia menemukan cara untuk mengubah persoalan menjadi peluang dan perlahan membangun kemandirian ekonomi keluarganya.
Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu persoalan yang kerap dihadapinya adalah hasil panen jamur tiram yang tidak seluruhnya terserap pasar. Ketika jamur segar tidak habis terjual, ada risiko bahan pangan tersebut terbuang begitu saja. Namun, Ibu Astuti memilih untuk tidak berhenti pada persoalan.
Ia mulai memutar cara. Jamur yang sebelumnya berpotensi menjadi sisa diolah kembali menjadi Jamur Krispi dan Stik Jamur. Langkah sederhana itu membuat hasil panen memiliki umur simpan lebih panjang sekaligus menciptakan produk dengan nilai jual baru.
“Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis terjual tidak terbuang. Sekarang saya tahu, dari sesuatu yang hampir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk keluarga, bahkan manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Astuti.