sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tantangan Geopolitik Bayangi Ekspor, LPEI Beri Solusi Mitigasi Risiko untuk Perbankan

Banking editor Anggie Ariesta
12/01/2026 12:50 WIB
Sebagai Export Credit Agency, LPEI menyediakan berbagai produk untuk memitigasi risiko gagal bayar, seperti TCI dengan perlindungan hingga 90 persen.
Tantangan Geopolitik Bayangi Ekspor, LPEI Beri Solusi Mitigasi Risiko untuk Perbankan. (Foto: iNews Media Group)
Tantangan Geopolitik Bayangi Ekspor, LPEI Beri Solusi Mitigasi Risiko untuk Perbankan. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Lanskap perdagangan internasional kini tengah menghadapi perubahan besar yang menuntut adaptasi cepat dari para pelaku usaha dan sektor perbankan.

Chairman ICC Banking Commission Indonesia, Herry Hykmanto memaparkan tiga tantangan utama saat ini yaitu volatilitas geopolitik serta perubahan kebijakan negara, diversifikasi rantai pasok global yang tidak lagi terpusat pada satu wilayah, serta munculnya negara berkembang sebagai pusat pertumbuhan baru.

Herry menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang cermat, terutama saat pelaku usaha mulai merambah pasar baru dengan profil risiko lebih tinggi. Dalam kondisi ini, instrumen seperti penjaminan (guarantee) dan asuransi ekspor menjadi sangat krusial.

“Penjaminan dan asuransi memungkinkan pelaku usaha memasuki pasar baru, mengikuti tender internasional, dan mengurangi risiko pembayaran,” ujar Herry dalam keterangan resmi, Senin (12/1/2026).

Sementara itu, Executive Vice President Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Suharyanto, menyoroti terjadinya pergeseran metode pembayaran dari yang semula berbasis Letter of Credit (LC) menjadi non-LC. Transformasi ini dipicu oleh pesatnya teknologi digital yang membuat proses transaksi menjadi lebih ringkas.

“Saat ini perdagangan internasional juga tengah masuk ke dalam era digitalisasi, dimana cara penagihan secara konvensional (fisik) melalui kurir, mulai ditinggalkan dan diganti dengan penagihan secara digital. Eksportir dan importir dapat bersepakat agar proses penagihan dilakukan melalui daring dengan mengunggah dokumen-dokumen antara lain dokumen pengapalan dan tagihan (invoice), melakukan approval hingga memantau payment schedule. Dengan demikian arus transaksi akan semakin efisien, cepat, dan aman,” kata Suharyanto.

Sebagai Export Credit Agency (ECA), Indonesia Eximbank menyediakan berbagai produk untuk memitigasi risiko gagal bayar, seperti Trade Credit Insurance (TCI) dengan perlindungan (indemnity) hingga 90 persen.

Tak hanya bagi eksportir, Indonesia Eximbank juga menawarkan solusi bagi industri perbankan melalui produk Penjaminan Kredit. Mengingat statusnya sebagai institusi berstatus Sovereign, penjaminan yang diterbitkan LPEI memberikan manfaat efisiensi modal bagi bank rekanan, berupa perhitungan ATMR (Risk Weighted Asset) yang rendah yakni 0-20 persen.

Selain itu, melalui fitur penjaminan khusus, perbankan berkesempatan memperoleh pembebasan dari perhitungan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Hal ini memberikan ruang lebih luas bagi bank untuk menyalurkan kredit ekspor secara lebih ekspansif namun tetap sehat.

“Kombinasi produk dalam struktur fasilitas yang solutif menjadikan penjaminan Indonesia Eximbank sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat daya saing perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspor,” kata Suharyanto.

Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat menjaga ketahanan bisnis para eksportir nasional sekaligus memperkuat penetrasi produk Indonesia di pasar global yang semakin dinamis.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement