Chief Business Officer ALTO Network Rangga Wiseno memahami alasan konsumen yang masih meragukan sistem pembayaran QRIS cross-border. Menurutnya, ada beberapa penyebab mengapa adaptasi QRIS lintas negara ini belum begitu masif.
“Kita tetap tukar uang kalau pergi ke luar negeri, meskipun sudah banyak metode pembayaran. Karena currency-nya. Metode tradisional mahal karena bergantung pada third-party currency,” kata Rangga.
Alasan kedua adalah karena edukasi yang belum maksimal. Baik pada sisi merchant (pedagang) di negara lain dan warga Indonesia selaku pembeli. Karena QRIS cross-border masih baru, konsumen ragu apakah metode pembayaran QRIS dapat diterima di merchant yang dikunjunginya.
Alasan ketiga adalah alasan keamanan. Rangga menjelaskan bahwa kerja sama sistem pembayaran lintas negara memang rumit. Tiap negara memiliki aturan dan sistem yang berbeda.
“QR payment di Malaysia dan Singapura berbeda; cara settlement-nya berbeda. Bisa H+1 atau H+2, inilah yang kami sederhanakan. Kami sebagai PIP (penyelenggara infrastruktur pembayaran) bertugas menyediakan produk yang simpel, sehingga bisa langsung dipakai,” kata Rangga.
(Nadya Kurnia)