AALI
8675
ABBA
232
ABDA
6025
ABMM
4330
ACES
640
ACST
188
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
745
ADMF
8350
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
278
AGII
2480
AGRO
615
AGRO-R
0
AGRS
97
AHAP
97
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1345
AKSI
328
ALDO
675
ALKA
288
ALMI
394
ALTO
173
Market Watch
Last updated : 2022/09/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
540.30
0.5%
+2.68
IHSG
7122.52
0.14%
+10.08
LQ45
1021.01
0.49%
+5.03
HSI
17353.50
-2.84%
-506.81
N225
26173.98
-1.5%
-397.89
NYSE
13541.76
-0.29%
-38.64
Kurs
HKD/IDR 1,942
USD/IDR 15,230
Emas
794,809 / gram

61 Persen Sumber Listrik RI Berasal dari Pembangkit Batu Bara

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Senin, 02 Agustus 2021 13:54 WIB
Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang bahan bakarnya menggunakan batu bara.
61 Persen Sumber Listrik RI Berasal dari Pembangkit Batu Bara (FOTO: MNC Media)
61 Persen Sumber Listrik RI Berasal dari Pembangkit Batu Bara (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang bahan bakarnya menggunakan batu bara. Di sisi lain, pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) belum dapat diandalkan untuk menghasilkan listrik.

Senior Manager Corporate Ratings Division Pefindo Martin Pandiangan mengatakan, dari segi kapasitas terpasang di tahun 2019, PLTU mendominasi sekitar hampir 44 persen. 

Di segmen EBT, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kontribusinya sekitar hampir 8 persen diikuti dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan kontribusi sekitar 3 persen.

Namun dari sisi produksi listrik, di mana PLTU menyumbang lebih besar lagi sekitar 61 persen. Di segmen EBT, PLTA hanya menyumbang 5 persen dan PLTP hanya sekitar 2 persen dari produksi listrik dalam negeri. "Dari data ini terlihat bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada produksi listrik dari PLTU. Sementara pembangkit listrik EBT belum dapat diandalkan untuk menghasilkan listrik," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Senin (2/8/2021).

Menurutnya, dari aspek geografis, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pembangkit EBT. Untuk potensi panas bumi di Indonesia lebih dari 400 GW. Sedangkan untuk potensi tenaga angin dan air masing-masing sekitar 150 GW.

"Untuk pembangkit tenaga surya itu bisa mencapai 200 GW. Untuk diketahui saat ini kapasitas terpasang untuk EBT itu hanya sekitar 10 GW. Jadi potensinya masih sangat besar untuk dikembangkan mengingat untuk di wilayah Indonesia yang terbesar," tuturnya.  (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD