“Investasi kita kan FDI itu USD60 miliar. Kita berharap dengan melihat ada begitu banyaknya pasar ini ya kita bisa meyakinkan mereka mumpung mereka di sini untuk menambah FDI yang dibutuhkan oleh Indonesia dan tentunya Kementerian Investasi. Jadi kita fokus untuk membesarkan investasi,” ucap dia.
Lebih lanjut, Anindya menjelaskan penyelenggaraan ini merupakan bentuk kolaborasi erat antara dunia usaha dan pemerintah, terutama dengan kementerian terkait. Hal ini menjadi krusial mengingat keketuaan APEC tahun ini dipegang oleh China.
“Kita menjadi host daripada ABAC ya, APEC Business Advisory Council. Keketuaan APEC kali ini adalah China yang puncaknya di November di Shenzhen. Nah, ini juga salah satu contoh kerja sama dengan pemerintah dalam hal ini dengan Kemenlu, tapi juga Kementerian Perdagangan," ujar Anindya.
Selain itu, ia menyoroti kehadiran 60 anggota ABAC yang diwakili para penentu kebijakan ekonomi dari kekuatan ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, China, hingga Rusia. Menurutnya, momentum tersebut bukan hanya sekedar rapat rutin, namun menjadi karpet merah bagi promosi perdagangan dan investasi.
"Ini merupakan bukan hanya sarana untuk rapat ABAC menuju kepada puncaknya, tapi kita juga menggunakan ini sebagai sarana tadi untuk promosi perdagangan juga investasi. Kita kemarin menjumlahkan market capitalization mereka kalau dijumlahin USD1,2 triliun. Jadi, itu mirip-mirip dengan PDB kita," kata dia.
(Febrina Ratna Iskana)