Sebab, secara tren, mudik menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, serta sektor jasa transportasi.
"Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto.
Optimisme tersebut juga didukung berbagai kebijakan stimulus, antara lain alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial sebesar Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjelang Idulfitri, serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.
Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), berbagai stimulus tersebut diproyeksikan mampu memberikan dorongan positif terhadap kinerja ekonomi nasional.
(NIA DEVIYANA)