IDXChannel - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental sektor riil dan industri domestik.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman menilai, tingginya pertumbuhan ekonomi saat ini masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan konsumsi domestik yang bersifat musiman.
“Pemerintah harus memperkuat kualitasnya. Bukan mengejar angka, tetapi justru mengejar kualitas dari angka itu sehingga daya tahan ekonominya menjadi kuat,” ujar Rizal dalam diskusi publik INDEF secara virtual, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), struktur perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 masih didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Industri pengolahan menjadi sektor terbesar dibandingkan sektor lainnya, diikuti perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,28 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, serta pertambangan dan penggalian 8,69 persen. Lima sektor utama tersebut menyumbang sekitar 63,52 persen terhadap perekonomian nasional.