Nilai PDB industri pengolahan pada triwulan I-2026 tercatat mencapai Rp1.179,6 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp701,3 triliun atas dasar harga konstan 2010. Secara tahunan (yoy), sektor ini tumbuh 5,04 persen, namun secara kuartalan masih mengalami penurunan sebesar 1,01 persen.
Menurut Rizal, kondisi tersebut menunjukkan sektor manufaktur berbasis pengolahan sumber daya alam belum mampu memperoleh dorongan optimal dari ekspansi ekonomi yang terjadi pada awal tahun.
Selain industri pengolahan, sektor pengadaan listrik dan gas juga tercatat mengalami penurunan 5,23 persen secara kuartalan dan minus 0,99 persen secara tahunan dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 0,95 persen.
Sementara sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang hanya tumbuh 0,42 persen secara tahunan dan masih terkontraksi 0,70 persen secara kuartalan.
Di sisi lain, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib justru menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 13,04 persen secara kuartalan dan 6,45 persen secara tahunan. Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81 persen pada triwulan I-2026.