Menurut Rizal, pola tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih sangat ditopang ekspansi fiskal. Ia mengingatkan, pertumbuhanny akan menjadi mahal apabila terlalu bergantung pada belanja pemerintah tanpa diikuti penguatan sektor produktif.
“Jangan mengandalkan belanja pemerintah sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi karena akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi sangat mahal,” katanya.
Dia juga menilai, konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2026 juga belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara merata. Kenaikan konsumsi lebih banyak terjadi pada sektor restoran dan hotel, transportasi, komunikasi, serta pakaian dan alas kaki yang didorong momentum Ramadan, Lebaran, Nyepi, hingga pencairan tunjangan hari raya (THR).
Menurutnya, konsumsi tersebut lebih banyak ditopang kelompok masyarakat menengah perkotaan dengan mobilitas tinggi, sementara kelompok masyarakat bawah masih menghadapi tekanan daya beli.
Di sisi fiskal, Rizal menyoroti realisasi penerimaan negara pada triwulan I-2026 baru sekitar Rp500 triliun, sedangkan belanja pemerintah mendekati Rp830 triliun sehingga memunculkan defisit sekitar Rp240 triliun atau setara 0,93 persen terhadap PDB.