“Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan. Oleh karena itu pemerintah mendorong Koperasi Merah Putih agar barang retail yang disubsidi pemerintah juga bisa tersedia di lapangan. Sekaligus mempunyai tugas sebagai agen untuk membeli barang-barang hasil pertanian ataupun perikanan di daerah masing-masing,” ujar Airlangga.
Integrasi antara ritel dan produksi dalam negeri juga menjadi bagian penting dalam transformasi perdagangan. Pemerintah mendorong agar peningkatan aktivitas perdagangan tidak hanya memperkuat sisi konsumsi, tetapi sekaligus menciptakan permintaan bagi barang yang diproduksi di dalam negeri.
“Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri,” kata Airlangga.
Penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada Triwulan II-2026, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06 persen (yoy) dan berkontribusi 53,32 persen terhadap PDB. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8, tetap di atas ambang optimistis 100.
Transformasi perdagangan juga terus didukung perkembangan sistem pembayaran digital. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM. Digitalisasi tersebut menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem perdagangan yang semakin efisien dan inklusif.