Kunjungan dilanjutkan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) dan BelAZ Holding Management Company. Di MAZ, fokus pembicaraan tertuju pada pengembangan bus dan kendaraan komersial rendah emisi, termasuk peluang perakitan lokal (local assembly).
Sementara di BelAZ, pembicaraan mendalam dilakukan mengenai penyediaan dump truck untuk sektor pertambangan. Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan akan kendaraan angkut yang berkelanjutan menjadi prioritas.
Indonesia menawarkan peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam (natural rubber) serta penggunaan baterai nikel untuk meningkatkan kinerja kendaraan tambang.
Meskipun potensi kerja sama sangat besar, Airlangga mencatat adanya kendala berupa sulitnya akses informasi mengenai kebutuhan spesifik alat berat di Indonesia bagi pihak Belarus.
Untuk mengatasinya, kedua negara sepakat untuk melakukan pemetaan kebutuhan bersama dan meningkatkan forum konsultasi reguler antara pelaku industri.
Kunjungan ke tiga raksasa industri Belarus ini diharapkan dapat memperkuat hasil SKB ke-8 serta menjadi fondasi penting bagi rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia di masa depan.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan Kadin dan Apindo.
(Febrina Ratna Iskana)