Di tengah lanskap ekonomi global yang dinamis, bauran kebijakan moneter dan fiskal terbukti mampu memitigasi kejatuhan nilai tukar secara lebih terukur.
“Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 dan depresiasi rupiah 5 persen. Jadi konteksnya saya sepakat sama Pak Misbakun harus dilihat secara konteks,” kata Airlangga.
Sejalan dengan penjelasan Airlangga, sebelumnya Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun turut memberikan catatan krusial untuk meluruskan kesalahpahaman di masyarakat. Publik diimbau tidak menyamakan posisi rupiah yang saat ini bertengger di kisaran Rp17.600 per USD dengan memori kelam krisis finansial Asia di 1998.
Misbakhun memaparkan runtutan fakta matematis di balik volatilitas kurs guna meredam kecemasan psikologis di akar rumput yang seolah-olah mengisyaratkan Indonesia sedang dihantui krisis besar
“Rupiah kita benar berada di level 17.600 dan orang selalu membandingkan dengan krisis 98. Rupiah memang 98 itu pernah mencapai melewati 17.000, bahkan mendekat 19.000. Tetapi rupiah saat itu berada di level tersebut berangkat dari angka 2.000-an,” kata Misbakhun.