AALI
8225
ABBA
550
ABDA
0
ABMM
1295
ACES
1300
ACST
244
ACST-R
0
ADES
2820
ADHI
895
ADMF
7675
ADMG
216
ADRO
1345
AGAR
368
AGII
1305
AGRO
2290
AGRO-R
0
AGRS
244
AHAP
70
AIMS
338
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
600
AKRA
3870
AKSI
424
ALDO
720
ALKA
234
ALMI
238
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
453.05
-0.47%
-2.15
IHSG
6060.76
-0.26%
-15.56
LQ45
851.73
-0.36%
-3.10
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29839.71
-2.17%
-660.34
NYSE
16168.17
-1.78%
-292.18
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,235
Emas
805,555 / gram

Angka Pekerja Migran RI Tertinggi Ada di Malaysia, Capai 2,3 Juta Orang

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti/Sindo
Senin, 10 Mei 2021 17:45 WIB
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengungkapkan, pekerja migran Indonesia terbanyak berada di Malaysia dengan jumlah sekitar 2,3 juta pekerja.
MPI

IDXChannel – Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengungkapkan, pekerja migran Indonesia terbanyak berada di Malaysia dengan jumlah sekitar 2,3 juta pekerja. Kata dia, separuh lebih dari jumlah pekerja migran statusnya tidak berdokumen.

“Mereka pekerja harian lepas, bekerja mingguan juga, dan saya kira ini mereka menjadi kelompok yang paling terdampak karena lockdown itu membuat mereka kehilangan pekerjaan,” ungkapnya dalam acara Market Review IDX Channel, Senin (10/5/2021).

Lanjut dia, pekerja migran yang tidak berdokumen itu otomatis akan kehilangan pekerjaan karena tidak berstatus sebagai pekerja kontrak.

“Statusnya bisa digaji harian atau digaji mingguan. Dengan adanya lockdown, adanya pembatasan mobilitas, tentu mereka juga akan kesulitan menjangkau tempat kerjanya. Karena Malaysia pun misalnya dalam konteks ini menerapkan security-sasi untuk lockdown pendekatan keamanan,” kata Wahyu.

Sementara itu, Wahyu menjelaskan, untuk pekerja migran yang berstatus sebagai pekerja kontrak terutama pekerja rumah tangga, walau tidak kehilangan pekerjaan tetapi beban pekerjaan bertambah.

“Adanya pembatasan mobilitas mereka kehilangan hak atas hari libur. Sementara beban kerja mereka itu makin bertambah. Misal, seluruh anggota keluarga majikannya ternyata juga menjalani WFH. Artinya, banyak request yang harus mereka terima dari keluarga majikan,” jelas dia.

Di sisi lain, dia menuturkan, pekerja kontrak yang paling terdampak adalah pekerja migran yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal pesiar karena hampir 95% pekerja tersebut dipulangkan.

Selain itu, berdasarkan data BP2MI tahun 2020 menyatakan bahwa sekitar 40.000 pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK kapal pesiar harus pulang ke kampung halaman. (IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD