"Tidak benar ini menggunakan transhipment dari negara lain untuk memproses," tegas Airlangga.
Airlangga menambahkan bahwa produk kemasan (packaging) plastik produksi Indonesia diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor ke negara-negara tetangga, bukan dikirim ke pasar AS.
"Plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan studi. Namun kami juga tegaskan bahwa studi ini merupakan studi yang berdasarkan anggapan atau asumsi. Jadi, apa yang terjadi sebetulnya tidak seperti apa yang mereka asumsikan," ujarnya.
Berdasarkan laporan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dikutip dari The Business Times, terdapat sekitar 40 negara yang dituduh masuk ke dalam shadow transhipment network.
AS memperkirakan praktik pengalihan barang melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal barang tersebut memicu potensi kehilangan penerimaan bea masuk AS hingga USD40 miliar hingga USD303 miliar.