Namun, ketergantungan pada konsumsi pemerintah membawa risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah aturan fiskal yang berlaku. Konsumsi swasta diproyeksikan tumbuh sekitar 5,0 persen, didukung momentum belanja rumah tangga dan kebijakan fiskal yang terarah.
Konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat lebih kuat, mencerminkan implementasi program prioritas. Pertumbuhan investasi diproyeksikan melambat menjadi 4,9 persen, sementara pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 5,0 persen.
Pertumbuhan PDB diproyeksikan pulih menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028 seiring meredanya gangguan eksternal dan reformasi domestik yang mendukung investasi. Pemulihan ini didukung oleh meredanya tekanan di pasar komoditas, pertumbuhan kredit swasta yang lebih kuat, percepatan investasi Danantara, serta upaya reformasi melalui agenda “debottlenecking” pemerintah.
Dorongan investasi dari tiga arah ini diharapkan dapat mengimbangi melemahnya kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan PDB akibat memburuknya terms of trade dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Dari sisi penawaran, sektor manufaktur berbasis komoditas, agribisnis, konstruksi, jasa, dan digital diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan. Namun, kekuatan pemulihan akan bergantung pada kecepatan implementasi reformasi dan kemampuan menarik investasi swasta.
(NIA DEVIYANA)