IDXChannel - Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD dinilai memberikan tekanan beruntun pada sektor riil nasional. Pelemahan mata uang Garuda tidak hanya memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok berbasis impor di tingkat konsumen, tetapi juga membebani biaya bahan baku industri pengolahan serta meningkatkan beban pembayaran utang valuta asing.
Pada penutupan perdagangan pada Jumat (24/7/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah 27 poin ke level Rp17.963 per USD. Torehan ini membuat rupiah melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.936 per USD.
Tekanan kurs ini terjadi di tengah dinamika kinerja ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen (yoy), dengan penopang utama dari sektor riil yakni industri pengolahan yang berkontribusi sebesar 19,07 persen terhadap PDB dan tumbuh 5,04 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia M Faisal menekankan soal pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat akibat lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok berbasis impor. Tingginya ketergantungan Indonesia pada pasokan bahan pangan impor membuat laju inflasi di tingkat konsumen berpotensi tereskalasi.