IDXChannel - Inflasi Indonesia diperkirakan tetap berada dalam target Bank Indonesia (BI), meski risikonya cenderung meningkat. Harga minyak global yang lebih tinggi diperkirakan mendorong tekanan biaya melalui harga bahan bakar, transportasi, logistik, dan pangan, sementara pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya energi impor dalam mata uang domestik.
“Namun, ekspektasi inflasi dapat dijaga melalui kredibilitas kebijakan moneter. Penggunaan kebijakan harga yang diatur (seperti untuk beras, pupuk, Pertalite, transportasi umum, dan listrik) diharapkan dapat menahan efek lanjutan,” tulis Bank Dunia dalam laporannya yang bertajuk Managing Risks, Unlocking Productivity, dikutip Jumat (12/6/2026).
Permintaan domestik yang tetap kuat, bersamaan dengan peningkatan investasi dan harga minyak yang lebih tinggi, diperkirakan meningkatkan impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan hingga 1,1 persen PDB pada 2028.
Data neraca pembayaran kuartal I-2026 sudah menunjukkan tekanan ini. Defisit tersebut diperkirakan dibiayai oleh investasi asing langsung dan aliran portofolio, meskipun volatilitas arus modal tetap menjadi risiko penting. Cadangan devisa diproyeksikan tetap memadai, sekitar 6 bulan impor barang dan jasa.
Dalam laporan yang sama, Bank Dunia juga meproyeksi ekonomi Indonesia melambat pada 2026. Pertumbuhan PDB diproyeksikan turun menjadi 5,0 persen pada 2026, seiring harga minyak yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi global yang meningkat, sentimen risiko yang memburuk, serta melemahnya permintaan dari mitra dagang yang menekan ekspor dan investasi asing.