AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Belum Juga Beroperasi, Ini Penyebab Proyek Infrastruktur Mangkrak dan Tak Terpakai

ECONOMICS
Iqbal Dwi Purnama
Senin, 25 Oktober 2021 15:24 WIB
Infrastruktur sangat penting dalam membangun perekonomian suatu negara, di mana satu wilayah dengan daerah lainnya bisa saling terkoneksi.
Belum Juga Beroperasi, Ini Penyebab Proyek Infrastruktur Mangkrak dan Tak Terpakai. (Foto: MNC Media)
Belum Juga Beroperasi, Ini Penyebab Proyek Infrastruktur Mangkrak dan Tak Terpakai. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Infrastruktur sangat penting dalam membangun perekonomian suatu negara, di mana satu wilayah dengan daerah lainnya bisa saling terkoneksi. Namun, ada kalanya proyek-proyek yang sedang dibangun berjalan lambat atau bahkan mangkrak.

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menbungkap hambatan yang terjadi pada Bandara Kertajati, pembangunan LRT di Jakarta, yang seharusnya sudah beroperasi, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, hingga pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga tak lepas dari minimnya Feasibility Study.

"Penyebabnya sama, seperti minimnya Feasibility Study (FS) dalam pembangunannya, orang mau bangun infrastruktur itu harus ada analisanya," ujarnya kepada MNC Portal (25/10/2021).

Agus mengatakan seharusnya pemerintah mengikuti aturan yang sudah ditetapkan seperti jarak antara bandara yang akan didirikan. Namun sayangnya, titik satu bandara dengan yang lainnya justru sangat dekat.

"Diselatan itu ada bandara Bandung, Tasikmalaya, Cilacap kemudian JB Soedirman terus ada YIA (Yogyakarta International Airport) itu bandara dekat-dekat seperti itu, emang ada berapa orang di Purbalingga yang menggunakan bandara," sambungnya.

Permasalah studi kelayakan tersebut, diduga agus hampir sama dengan bandara Kertajati, yang minim aktivitas penumpang disebabkan oleh sulitnya akses integrasi ke bandara tersebut.

Djoko menambahkan, saat ini akses ke bandara Kertajati masih belum tersambung oleh jaringan tol. Inilah yang menyebabkan lokasi ini masih sangat sepi dari penumpang.

"Lewat jalan pantura masuk kedalamnya jauh, lewat jalan tol belum ada aksesnya, tentu orang dari bandung lebih memilih ke Jakarta, karena kalau ke situ (Kertajati) bisa muter hingga 4-5 jam, sedangkan ke Jakarta cuma 3 Jam," ujar sambung Djoko.

Sejak April 2020, bandara Kertajati sudah tidak melayani penumpang lagi, sebelumnya terdapat 4 maskapai yang memiliki slot penerbangan di bandara Kertajati, yaitu Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, dan Wings Air.

Permasalah tersebut dijelaskan Agus ketika muncul sebuah gagasan untuk menampung limpahan dari bandara Soekarno-Hatta, di Cengkareng.

"Saya sudah bilang waktu itu, limpahan itu tidak boleh lebih dari 50 KM, kalau itu kejauhan, kalau orang dari Bandung ke Medan misalnya, ya dia milih ke Jakarta penerbangannya banyak, waktu itu," sambung Agus.

Agus menduga, Hal-hal tersebut terjadi didasari oleh studi awalnya yang kurang tepat sehingga proyek yang dijalankan mangkrak. Dirinya menyebut mangkrak terbagi menjadi dua, pertama bisa mangkrak tidak jadi, dan mangkrak sudah jadi tapi tidak beroperasi.

Sedangkan untuk LRT Jakarta, dirinya mengatakan ada kesalahan dari sisi pengadaan rel yang digunakan, sehingga rel LRT yang digunakan berbeda dengan rel Kereta Api pada umumnya sehingga diperlukan Depo baru untuk menampung LRT.

"Misalnya seperti kereta cepat, LRT Jabodebek, itu kan belum jalan juga, padahal sudah lama, untuk LRT saya sudah bilang, itu kan relnya berbeda dengan rel yang dipakai kereta api, karena rel lebar itu untuk kecepatan diatas 120 KM/Jam, ngapain pakai itu,"

Menurutnya penggunaan rel yang berbeda itu akan justru menambah biaya pembangunan seperti bikin stasiun baru, karena rel yang digunakan berbeda dengan kereta api pada umumnya

"Kalau sama kan bisa pakai depo manggarai karena sekarang beda, ya tidak bisa, dia harus bikin Depo, sehingga dari anggaran Rp20T menjadi Rp30T, hal itu kan sebenarnya masuk ke feasibility study," tuturnya.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat Djoko Setijowarno menyampaikan, selain membangun infrastruktur, pemerintah pusat maupun daerah juga harus bisa mengembangkan potensi pariwisata untuk menarik masyarakat di daerah lain untuk berkunjung dan menggunakan infrastruktur.

Djoko menambahkan proyek mangkrak juga tidak hanya disebabkan oleh kurangnya FS, namun juga berubahnya kebijakan pemerintah daerah setiap ganti kepemimpinan.

Misalnya pembangunan LRT di Sumatra Selatan, sebelumnya pemerintah Provinsi Sumatera Selatan ada rencana perpindahan perkantoran di Jakabaring.

Proyek ini memakan biaya hingga Rp 12,5 triliun yang diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pada awal pembukaannya, moda transportasi ini menarik minat masyarakat setempat namun saat ini jumlah penumpang kini hanya 10%.

"Kalau sepi pemnat itu alasannya sederhana, dulu janjinya Pemprov Sumsel itu ada perpindah perkantoran gubernur di Jakabaring, sehingga bisa menimbulkan kebangkitan, tapi ternyata ganti gubernur ganti kebijakan," kata Djoko. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD